Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Menilik Kitab-Kitab Agung dan Harta Sastra Kerajaan Majapahit, Berikut Daftar Lengkapnya

Imron Arlado • Rabu, 5 November 2025 | 05:05 WIB
Naskah-naskah yang diwariskan oleh Majapahit mengandung nilai-nilai sejarah, filosofi  etika, kepemimpinan, dan kerukunan beragama yang membentuk karakter Nusantara.
Naskah-naskah yang diwariskan oleh Majapahit mengandung nilai-nilai sejarah, filosofi etika, kepemimpinan, dan kerukunan beragama yang membentuk karakter Nusantara.

Jawa Pos Radar Majapahit - Majapahit diakui secara luas sebagai kerajaan paling besar dalam sejarah Nusantara. Namun, kejayaan Majapahit tidak hanya dapat ditemukan di batu, candi, atau prasasti.

Jejak kejayaannya paling jelas terlihat melalui karya-karya sastranya. Karya sastra yang ditinggalkan oleh Majapahit berfungsi sebagai jendela yang membuka perspektif masyarakat, tata pemerintahan, dan ide-ide besar tentang harmoni serta keberagaman.

Lima karya yang kerap disebut sebagai warisan sastra signifikan dari Majapahit adalah Sutasoma, Negarakertagama, Pararaton, Arjunawijaya, dan Parthayajna.

Setiap karya ini tidak hanya sekedar teks sastra, namun juga berfungsi sebagai arsip sosial, keagamaan, dan politik dari era tersebut.

1. Sutasoma Dari Sastra Menjadi Falsafah Bangsa

Dikaryakan oleh Mpu Tantular, Sutasoma terkenal sebagai sumber dari semboyan nasional “Bhinneka Tunggal Ika”. Kitab ini menceritakan perjalanan Pangeran Sutasoma yang mengedepankan kasih sayang, kebijaksanaan, dan kedamaian.

Pesan mengenai toleransi antar-agama sangat jelas, mencerminkan kondisi masyarakat Majapahit yang bersinergi antara Hindu, Budha, dan kepercayaan lokal.

Nilainya lebih dari sekadar karya sastra, melainkan sebagai pedoman hidup dalam keragaman, yang secara ironis terasa semakin relevan pada era sekarang.

 

 

2. Negarakertagama, Panorama Majapahit dalam Puisi 

Disusun oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 M, Negarakertagama adalah sebuah puisi kakawin yang menggambarkan keadaan Majapahit pada masa kejayaannya di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk.

Buku ini berisi rincian tentang serangkaian upacara kerajaan, penjelasan mengenai ibu kota, wilayah yang dikuasai, serta kebijakan yang diterapkan oleh pemerintahan.

Sejarawan kontemporer menganggap karya ini sebagai salah satu dokumen paling tepat untuk memahami struktur politik Majapahit yang sangat terorganisir.

3. Pararaton, Antara Mitologi dan Realitas

Pararaton, atau Buku Raja-Raja, menggabungkan elemen mitologis dengan catatan sejarah. Narasinya dimulai dari kisah Ken Arok hingga pendiriannya Majapahit.

Berbeda dengan Negarakertagama yang terstruktur, Pararaton menawarkan narasi epik, ramalan, dan catatan peristiwa-peristiwa penting. Bagi para peneliti, buku ini merupakan teka-teki sejarah, menarik, misterius, dan sarat dengan simbol.

 

 

4. Arjunawijaya,Cerita Kepemimpinan dan Keberanian

Karya Mpu Tantular yang lain, Arjunawijaya, menampilkan cerita tentang Arjuna sebagai raja yang bijak dan melawan kejahatan. Walaupun berasal dari kisah epos, buku ini menyampaikan pesan moral mengenai tanggung jawab seorang pemimpin, keberanian, dan keadilan,nilai-nilai yang sangat dihormati di Majapahit. 

5. Parthayajna,Naskah yang Lebih Senyap, Namun Penting 

Walaupun tidak sefamos karya lain, Parthayajna tetap dianggap sebagai bagian penting dalam sastra Majapahit. Buku ini menceritakan tentang pertempuran dan konflik yang berisi banyak simbol spiritual.

Keberadaannya menunjukkan bahwa tradisi sastra Majapahit sangat beragam, tidak hanya dalam hal pemerintahan dan keagamaan, tetapi juga dalam drama kepahlawanan.

Mengapa buku-buku ini memiliki arti penting? Pertama-tama, dari sudut pandang sejarah, mereka memberikan wawasan tentang cara Majapahit melihat diri mereka serta relasi dengan daerah-daerah dan bangsa lain.

Misalnya, Negarakertagama menggambarkan jaringan politik dan wilayah-wilayah kekuasaan.

Kedua, dalam konteks budaya dan nilai-nilai, Sutasoma menegaskan bahwa gagasan tentang toleransi dan pluralisme telah ada di Nusantara, dan bukanlah hal yang baru, melainkan telah terekspresikan dalam bentuk karya sastra.

Ketiga, dari sudut pandang linguistik dan sastra, buku-buku tersebut menampilkan perkembangan sastra Jawa Kuno (kawi) pada era Majapahit serta perubahan nilai dan estetika menjadi bentuk tulisan yang bermakna. Namun, tetap ada tantangan yang harus dihadapi.

 

 

Beberapa naskah hanya tersisa dalam bentuk potongan atau salinan yang lebih baru, mengharuskan dilakukan penelitian yang mendalam mengenai keaslian, konteks penulisan, serta maksud yang terkandung pada zaman tersebut.

Contohnya, Pararaton sering kali mencampurkan antara unsur mitos dan fakta sejarah, sehingga pembacaan naskah tersebut perlu dilakukan dengan hati-hati.

Di sisi lain, penyebaran serta pelestarian manuskrip ini masih belum sebanding dengan artefak fisik seperti candi dan prasasti.

Buku-buku warisan Majapahit bukan sekadar catatan sejarah, melainkan juga merupakan harta sastra yang kaya akan makna yang menghubungkan zaman lampau dengan zaman sekarang.

Menekankan nilai toleransi, dan menunjukkan bahwa Nusantara telah memiliki tradisi sastra yang kuat jauh sebelum era modern. Mempelajari buku-buku ini berarti juga menggali akar budaya dan identitas bangsa Indonesia. (Okta/Wulandari)

Editor : Martda Vadetya
#sutasoma #kitab #Parthayajna #arjunawijaya #majapahit #negarakertagama #pararaton #sastra