Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Inilah Jejak Duka Majapahit hingga Asal Mula Larangan Nikah Sunda-Jawa

Imron Arlado • Rabu, 5 November 2025 | 03:00 WIB
Konflik di Bubat menjadi dasar dari legenda yang menyatakan bahwa perempuan Sunda  tidak boleh menikah dengan pria Jawa. Sebuah catatan sejarah yang meninggalkan bekas  hingga saat ini.
Konflik di Bubat menjadi dasar dari legenda yang menyatakan bahwa perempuan Sunda tidak boleh menikah dengan pria Jawa. Sebuah catatan sejarah yang meninggalkan bekas hingga saat ini.

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Dalam catatan sejarah interaksi suku-suku di Nusantara, terdapat satu momen yang hingga kini masih sering dibahas, yaitu Perang Bubat.

Kisah ini tidak hanya berkaitan dengan konflik fisik, tetapi juga mengenai cinta yang hancur, keinginan untuk berkuasa, serta kerusakan budaya yang meninggalkan dampak mendalam antara masyarakat Sunda dan Jawa.

Perang Bubat terjadi pada puncak kejayaan Majapahit, ketika Raja Hayam Wuruk memimpin kerajaan. Pada masa itu, Majapahit terkenal akan kekuatan, dihormati, dan ditakuti di hampir seluruh pelosok Nusantara.

Di sisi lain, Kerajaan Sunda masih dalam keadaan merdeka dan terpisah dari pengaruh Majapahit. Perselisihan ini dipicu oleh rencana pernikahan antara Hayam Wuruk dan Putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi.

Rencana ini bukan sekadar untuk cinta, melainkan juga mencakup hubungan diplomatik antar kerajaan.

Delegasi Sunda datang ke Majapahit dengan niat baik untuk menyerahkan putri mereka demi pernikahan yang terhormat.

Namun, keadaan berubah saat Patih Gajah Mada menafsirkan kedatangan utusan Sunda sebagai sebuah bentuk penyerahan kepada Majapahit, bukan sebagai pernikahan yang setara.

 

 

Ia berusaha menjadikan momen ini sebagai bukti dari ambisi besarnya, menyatukan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.

Hayam Wuruk sebenarnya tidak memiliki niat untuk mempermalukan Sunda, tetapi pengaruh Gajah Mada pada saat itu sangat signifikan.

Ketegangan pun meningkat, sampai akhirnya terjadi bentrokan di Pesanggrahan Bubat.

Pasukan Sunda yang jumlahnya lebih sedikit mengalami kesulitan melawan pasukan Majapahit. Raja Sunda, Sri Baduga Linggabuana, tewas bersama para pengawalnya yang setia.

Namun, tragedi yang paling menyedihkan tidak terjadi di medan perang, melainkan pada diri Putri Dyah Pitaloka.

Merasa keluarganya dan kerajaannya terhina, sang putri memilih untuk mengakhiri hidupnya. Tindakannya diingat sebagai lambang kehormatan dan martabat masyarakat Sunda.

Kejadian ini menimbulkan luka yang mendalam bagi Kerajaan Sunda. Setelah tragedi tersebut, hubungan antara kedua kerajaan semakin memburuk.

Para raja Sunda selanjutnya memberlakukan larangan ketat untuk menikahi orang Jawa sebagai bentuk penegasan bahwa Sunda tidak akan tunduk pada dominasi Majapahit dan berupaya menjaga martabat bangsanya.

 

 

Seiring berjalannya waktu, larangan ini berkembang menjadi sebuah mitos sosial “Perempuan Sunda tidak boleh menikahi pria Jawa.”

Mitos ini tidak memiliki kekuatan hukum, tetapi diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita rakyat, nasihat dari para orang tua, dan pandangan budaya yang terus melekat hingga saat ini.

Walaupun di zaman modern banyak pernikahan antara Sunda dan Jawa yang berlangsung bahagia tanpa hambatan, kisah Perang Bubat tetap menjadi penanda peristiwa pahit antara dua kebudayaan besar di Jawa.

Narasi ini bukan untuk memicu kebencian, melainkan untuk memahami bahwa setiap mitos selalu memiliki akar sejarah yang dalam.

Saat ini, mitos tersebut sering dipandang sebagai bagian dari sejarah lampau. Generasi muda lebih cenderung memandang pernikahan sebagai urusan kecocokan dan cinta, bukan konflik politik yang sudah berlalu berabad-abad.

Namun, mempelajari Perang Bubat memberikan wawasan bahwa budaya dibentuk melalui pengalaman, perjuangan, dan peristiwa penting yang membentuk identitas suatu bangsa.

Pada akhirnya, sejarah tetap berfungsi sebagai cermin. Dari Perang Bubat, kita bisa menarik pelajaran bahwa ambisi untuk berkuasa dan salah paham dapat merusak sesuatu yang seharusnya menyatukan cinta dan persaudaraan. (Okta/Devi)

Editor : Martda Vadetya
#hayam wuruk #Dyah Pitaloka Citraresmi #Raja Sunda #gajah mada #kekuasaan #sri baduga #sunda