JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Di antara berbagai pecahan kendi dan wadah tanah liat yang ditemukan oleh para peneliti sejarah di Trowulan, Mojokerto, terdapat jejak yang memberikan kesan aroma manis dari nira.
Dari temuan sederhana itu, tersibak cerita tentang satu tradisi yang pernah menyatukan rakyat dan bangsawan Majapahit yaitu tradisi minum tuak bersama.
Penemuan arkeologis di Trowulan mengindikasikan bahwa tradisi ini telah sangat tertanam.
Di antara pecahan kendi dan tempayan yang ditemukan, beberapa masih mengandung residu fermentasi nira.
Penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta membuktikan bahwa sisa-sisa tersebut mirip dengan endapan tuak aren yang menandakan betapa penting dan meluasnya minuman ini dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Majapahit.
Baca Juga: Lulur Kuning dan Minyak Kenanga, Pesona Abadi dari Istana Majapahit
Berbeda dengan anggapan bahwa minuman fermentasi hanya untuk pesta rakyat, tuak Majapahit justru menembus semua lapisan sosial.
Masyarakat biasa, prajurit, hingga para bangsawan semuanya mengenal minuman ini.
Dalam satu kisah di Negarakertagama, disebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk pernah menghadiri perjamuan rakyat dan meminum tuak bersama mereka, tanda kedekatan seorang raja dengan rakyatnya.
Mengapa tuak memiliki arti penting bagi Majapahit? Bagi mereka, tuak lebih dari sekedar minuman.
Ia adalah “tirta kehidupan”, cairan yang menghubungkan manusia dengan alam. Pada upacara Siwa-Buddha, tuak dipakai sebagai sesajian untuk para dewa dan leluhur.
Proses pembuatan tuak pun sarat makna. Setiap pagi sebelum matahari terbit, para penyadap memanjat pohon aren untuk mengumpulkan nira segar dari bunga jantan.
Cairan manis itu ditampung dalam bambu tertutup daun pisang agar tetap murni. Setelah 2–3 hari, nira mengalami fermentasi alami menjadi tuak dengan kandungan alkohol yang ringan.
Baca Juga: Skandal Cinta di Zaman Majapahit: Putri Raja Jatuh Hati pada Tabib Istana!
Kini, ratusan tahun setelah Majapahit runtuh, jejak tradisi tuak masih bisa dijumpai di beberapa desa Jawa Timur dan Bali.
Tuak tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa, meskipun kini lebih dianggap dalam konteks sosial daripada spiritual.
Namun satu hal tak berubah, tuak masih menjadi lambang kebersamaan. (Tri Yulia Setyoningrum/Devi)
Editor : Martda Vadetya