Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Duduk Bersila di Jaman Majapahit, Kebiasaan, Lambang, dan Warisan Budaya

Imron Arlado • Minggu, 2 November 2025 | 04:43 WIB
tempat duduk pada masa Majapahit, adat istiadat duduk masyarakat saat itu, sampai penafsiran kontemporer
tempat duduk pada masa Majapahit, adat istiadat duduk masyarakat saat itu, sampai penafsiran kontemporer

Jawa Pos Radar Majapahit - Ketika berbicara mengenai peradaban besar di Nusantara seperti Majapahit, banyak orang cenderung membayangkan istana megah, prajurit yang tampan, serta tanda-tanda kekuatan raja.

Namun, sedikit yang mengungkapkan hal mendasar, bagaimana caranya masyarakat Majapahit duduk?

Apakah mereka memakai kursi sebagaimana yang kita kenali sekarang? Menariknya, tidak terdapat bukti dari arkeologi atau catatan sejarah yang mengonfirmasi adanya kursi modern pada masa tersebut.

Sebaliknya, tradisi duduk di atas lantai menjadi karakteristik yang kuat dari budaya Jawa kuno, bahkan pada saat puncak kejayaan Majapahit.

Di kalangan masyarakat Majapahit, duduk di lantai dengan menggunakan tikar atau alas dari serat alam adalah praktik yang umum. Ini tidak hanya berlaku untuk rakyat biasa, tetapi juga dalam konteks formal atau kegiatan spiritual.

Sikap duduk bersila atau bersimpuh menunjukkan kesopanan, kerendahan hati, serta harmoni dengan nilai-nilai budaya Jawa yang menekankan pada tata krama dan kebijaksanaan batin. Tradisi ini masih terlihat jelas dalam budaya Jawa dan Bali hingga saat ini.

 

 

Selain menggunakan tikar, pada era Majapahit juga mengadaptasi balai-balai atau risban, sebuah tempat duduk atau berbaring yang terbuat dari kayu dengan permukaan datar dan tanpa sandaran yang tinggi.

Perabotan ini lebih mirip dengan daybed atau bangku panjang. Masyarakat sering menggunakannya untuk bersosialisasi, beristirahat, atau menerima tamu dalam suasana yang santai.

Meskipun sederhananya, balai-balai tersebut mencerminkan nilai kebersamaan yang kuat di masa lalu, dimana percakapan berlangsung tanpa batasan fisik seperti kursi individu.

Lalu, bagaimana dengan para bangsawan atau penguasa? Tentu, Majapahit memiliki simbol kekuasaan, termasuk tempat duduk khusus untuk pemimpin. Namun, konsepnya berbeda dari kursi singgasana Eropa yang tinggi dan dihias dengan mewah.

Beberapa naskah dan relief menggambarkan dharmasana, yaitu tempat duduk suci berbentuk panggung atau platform tinggi. Raja atau pendeta sering duduk di atasnya, biasanya dengan posisi bersila, untuk menunjukkan kedudukan spiritual dan politik.

Bentuknya lebih seperti alas bertingkat daripada kursi dengan sandaran. Dalam konteks keyakinan Hindu-Buddha, posisi bersila dianggap lebih sakral dibandingkan dengan duduk di kursi yang tinggi.

Relief dari candi pada masa Jawa klasik jarang menunjukkan kursi dengan sandaran. Sebaliknya, tokoh-tokoh bangsawan terlihat duduk di atas pelataran atau panggung kecil.

Kesederhanaan ini bukan disebabkan oleh keterbatasan kemampuan seni atau teknologi, namun merupakan pilihan budaya yang menempatkan keselarasan spiritual lebih tinggi dibanding kemewahan fisik.

Menariknya, istilah "kursi Majapahit" yang populer saat ini umumnya mengacu pada furnitur jati dengan ukiran yang khas dari Jawa. Banyak rumah adat dan hotel dengan nuansa etnik menggunakan jenis kursi ini.

 

 

Namun, produk ini merupakan interpretasi modern yang terinspirasi oleh estetika Majapahit, bukan tiruan yang autentik.

Elemen dekoratifnya diambil dari motif kala makara, flora, dan ornamentasi klasik Jawa, namun bentuk furniture tersebut mengadaptasi desain dari kursi Eropa dan kolonial.

Melalui analisis ini, kita bisa memahami bahwa kursi dengan definisi modern tidak menjadi bagian penting dalam budaya Majapahit. Tradisi duduk di atas lantai mencerminkan filosofi kehidupan masyarakat saat itu,

Kesederhanaan, kedekatan dengan alam, dan penghormatan dalam interaksi sosial. Amenitas modern yang terinspirasi dari Majapahit yang kini populer, merupakan bentuk penghormatan sekaligus transformasi budaya, yang menunjukkan bagaimana warisan klasik tetap berlanjut dan beradaptasi dengan era baru. (OKTA/Devi)

Editor : Martda Vadetya
#duduk dilantai #budaya #tradisi #Adat #Jaman Majapahit #bangku #kursi #duduk bersila