Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Bukan Hanya Kapal, Inilah Alat Transportasi Masyaraakat hingga Kaum Bangsawan Majapahit

Imron Arlado • Minggu, 2 November 2025 | 04:41 WIB
Melihat jenis-jenis transportasi di zaman kerajaan di Nusantara, tandu para bangsawan, kereta kuda resmi, dan perahu berlayar berfungsi sebagai tanda kejayaan maritim.
Melihat jenis-jenis transportasi di zaman kerajaan di Nusantara, tandu para bangsawan, kereta kuda resmi, dan perahu berlayar berfungsi sebagai tanda kejayaan maritim.

Jawa Pos Radar Majapahit - Pada masa di mana mesin belum berperan merubah jalannya sejarah dan jalan raya belum tercipta seperti sekarang, pergerakan di Nusantara tetap aktif dan hidup.

Dalam context kerajaan besar seperti Majapahit, Sriwijaya, dan Mataram Kuno, masyarakat telah mengembangkan konsep transportasi yang tertata dan bermanfaat.

Sarana bepergian pada waktu itu lebih dari sekadar alat untuk berpindah ruang, tetapi juga menjadi tanda status, simbol kekuasaan, serta jantung dari aktivitas perdagangan.

 

 

Tandu, Kendaraan Para Bangsawan

Di dalam lingkungan kerajaan, keberadaan tandu merupakan pemandangan yang biasa terlihat.

Dibawa oleh beberapa pengusung, tandu digunakan untuk mengangkut kalangan bangsawan, pejabat di istana, dan tokoh terkemuka dalam berbagai upacara resmi.

Bahan dari kayu berkualitas, kain penutup yang indah, dan berbagai hiasan mencerminkan status sosial dari orang yang diangkut.

Bagi masyarakat biasa, tandu tidaklah mudah diakses, hal ini lebih mirip simbol kemewahan istana sebuah panggung bergerak yang menegaskan kekuatan.

Relief-relief di candi-candi di Jawa menggambarkan penggunaan pikulan dan tandu sebagai sarana mobilitas dalam kegiatan sehari-hari maupun upacara suci.

Jalur tanah, jalan kecil, dan pelataran kerajaan menjadi saksi langkah-langkah para abdi yang membawa tokoh bangsawan melewati area kekuasaan.

 

Kuda dan Kereta, Nafas Status dan Diplomasi

Kedatangan kuda ke Nusantara menandai sebuah era baru dalam perjalanan di darat. Hewan ini tidak hanya digunakan dalam pertempuran, tetapi juga sebagai penghubung antar wilayah kerajaan.

Catatan sejarah mencatat bahwa kuda mulai ada di Jawa sekitar abad ke-14, dan lalu berkembang dalam tradisi keraton terutama setelah adanya pengaruh luar

Kereta kuda yang digunakan oleh raja dan bangsawan terkemuka telah menjadi simbol kemewahan, seperti yang tergambar di akhir era kerajaan-kerajaan Jawa.

Kereta-kereta yang nampak di Yogyakarta dan Surakarta menunjukkan kesinambungan tradisi istana dari generasi ke generasi.

Roda dari kayu, ukiran megah, kain yang dihias emas, dan kusir yang berbusana istana mencerminkan perjalanan yang bukan hanya fisik, tetapi juga terkait politik, kehormatan, dan diplomasi.

 

 

Perahu Bercadik dan Kapal,Nafas Maritim Nusantara

Jika di darat ada tandu dan kereta, maka laut dan sungai menjadi arena kejayaan Nusantara. Perahu bercadik adalah cerminan peradaban maritim yang sudah maju.

Cadiknya berfungsi untuk menyeimbangkan, menjadikannya sangat baik untuk melintasi arus sungai dan gelombang di laut.

Dari aktivitas nelayan hingga perdagangan antar pulau, perahu bercadik menjadi denyut nadi bagi masyarakat kepulauan.

Kerajaan besar seperti Sriwijaya bahkan memanfaatkan laut sebagai lambang kekuasaan.

Kapal-kapal besar dengan layar tinggi yang tertiup oleh angin tropis, melintasi jalur perdagangan internasional, mengangkut rempah-rempah, diplomasi, dan kejayaan budaya.

Jejak Masa yang Masih Bernapas

Transportasi tradisional di era kerajaan bukan hanya sekadar bukti teknologi awal.

Hal tersebut juga merupakan bagian dari peradaban, menggambarkan bagaimana kekuasaan bergerak, bagaimana rakyat melakukan perdagangan, dan bagaimana nusantara membentuk identitas sebagai bangsa pelaut sekaligus agraris.

Saat ini, bukti arkeologi, relief candi, dan catatan kuno menjadi narasi yang mengingatkan kita bahwa kemajuan dalam transportasi tidak terjadi secara instan.

Ia berkembang dari tandu istana, suara langkah kuda di tanah Jawa, hingga layar kapal yang melintasi cakrawala samudra. (Okta/Devi)

Editor : Martda Vadetya
#sriwijaya #Jaman Majapahit #perjalanan #mataram kuno #transportasi