JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Peradaban Majapahit terkenal tidak hanya karena kekuatan politik dan budayanya, tetapi juga karena tradisi kecantikan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dan terus diterapkan hingga saat ini.
Salah satu hal yang menarik adalah mengenai pemanfaatan skincare dan perawatan alami, dengan menggunakan bahan-bahan herbal yang sudah dikenal sejak zaman kerajaan besar di wilayah Nusantara ini.
Masyarakat Majapahit, khususnya putri-putri keraton dan bangsawan, memanfaatkan berbagai bahan alami untuk merawat kecantikan serta kesehatan kulit mereka.
Salah satu perawatan yang paling penting adalah lulur tradisional yang terbuat dari campuran temu giring dan kunyit, yang bertujuan untuk menghilangkan sel kulit mati sehingga kulit terlihat lebih cerah dan halus.
Selain itu, lulur menggunakan bahan seperti bubuk kopi, bengkoang, dan teh hijau juga sangat diminati untuk merawat keremajaan kulit secara alami.
Selain lulur, ada juga yang disebut dengan bedak dingin dan menjadi bagian penting dari ritual kecantikan, dibuat dari bahan alami seperti padi, gandum, dan bunga melati.
Produk ini berfungsi untuk melindungi kulit dari sinar matahari sambil memberikan efek melembapkan dan membantu mencegah penuaan dini.
Perawatan lain yang dikenal adalah tapel, biasanya digunakan oleh wanita setelah melahirkan untuk mengencangkan kulit perut yang kendur akibat hamil agar tetap kencang dan sehat.
Pilis adalah ramuan khusus yang dioleskan pada dahi, terbuat dari temu kunci, daun sirih, dan lemon.
Manfaat pilis tidak hanya terfokus pada kecantikan, tetapi juga membantu mengurangi sakit kepala dan menghaluskan kerutan di area dahi, menunjukkan bahwa perawatan ini mencakup aspek kesehatan dan estetika sekaligus.
Selain aplikasi dari luar, konsumsi jamu menjadi bagian penting dalam menjaga kecantikan dari dalam pada zaman itu.
Jamu tradisional yang terbuat dari bahan seperti kunyit, temulawak, jahe, kencur, dan daun sirih memiliki manfaat untuk meregenerasi kulit, mengatasi peradangan, serta menjaga kebugaran tubuh.
Proses pembuatan jamu pada zaman Majapahit dilakukan secara tradisional, dan diyakini tidak hanya berfungsi menyembuhkan penyakit tetapi juga melindungi tubuh dari pengaruh buruk.
Warisan herbal ini, yang merupakan sumber daya alam Indonesia dan diramu dengan penuh perhatian oleh dukun dan empu keraton, masih digunakan secara luas sebagai bagian dari tradisi perawatan kulit Indonesia.
Kearifan lokal Majapahit menunjukkan bahwa kecantikan dan kesehatan kulit dapat dipertahankan dengan bahan alami yang aman dan bemanfaat.
Dengan demikian, dari lulur, bedak dingin, pilis hingga jamu, seluruh tradisi perawatan kulit Majapahit tidak hanya menjadi bagian dari kebanggaan sejarah tetapi juga berfungsi sebagai pedoman perawatan alami yang tetap relevan dan hidup di tengah kemajuan zaman modern. (Dzafir Kirana Adelia/Devi)
Editor : Martda Vadetya