Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kecemburuan di Istana Majapahit, Kisah Siu Ban Ci, Ibu Raden Patah

Imron Arlado • Minggu, 2 November 2025 | 04:33 WIB
Kisah tragis ibu Raden Patah, seorang selir di kerajaan Majapahit yang terpaksa diusir dari  istana karena iri hati permaisuri Campa, hingga harus menjalani kehidupan di tempat  terasing.
Kisah tragis ibu Raden Patah, seorang selir di kerajaan Majapahit yang terpaksa diusir dari istana karena iri hati permaisuri Campa, hingga harus menjalani kehidupan di tempat terasing.

Jawa Pos Radar Majapahit - Sejarah tidak selalu mencatat tentang kemenangan raja atau kesuksesan suatu peradaban. Di balik kemewahan istana Majapahit, terdapat cerita seorang wanita yang terpinggirkan akibat kecemburuan dan kuasa, ibu dari Raden Patah.

Namanya mungkin tidak seterkenal para penguasa Majapahit, namun kontribusinya sangat signifikan dalam kemunculan tokoh penting dalam sejarah Islam di Nusantara.

Ibu Raden Patah disebut dalam berbagai naskah tradisional Jawa sebagai perempuan dari keturunan Tionghoa yang terkenal cantik, cerdas, dan berperilaku sopan. Dia menjadi selir Prabu Brawijaya V, raja terakhir dari Majapahit.

Ketika ia masuk ke lingkungan istana, kecantikannya membuat raja terpesona. Namun, daya tarik itulah yang juga memicu konflik di dalam keraton.

Permaisuri utama raja berasal dari Campa, daerah yang kini termasuk dalam wilayah Vietnam. Permaisuri dari Campa dikenal anggun dan memiliki posisi yang kuat di istana. Namun, kehadiran selir baru menjadikan posisinya terasa terancam.

Kecemburuan mulai muncul, dari tatapan dingin hingga intrik yang lambat laun mengubah nasib seorang perempuan. Saat selir tersebut mengandung anak raja, bukannya merasa bahagia, ia justru menghadapi tekanan yang semakin besar.

Dalam situasi politik istana yang rumit, kecemburuan berubah menjadi senjata. Permaisuri menekan agar selir itu disingkirkan. Dalam kondisi sulit tersebut, raja yang terjebak di antara kedua pihak akhirnya menyerah pada tekanan yang ada.

Alih-alih melindungi ibu dari anaknya, ia memilih jalan yang aman demi menjaga stabilitas istana. Selir tersebut kemudian diusir jauh dari istana Majapahit. Tujuannya bukanlah tempat yang dekat, melainkan Palembang, yang saat itu masih di bawah kekuasaan Majapahit.

Ia diserahkan kepada Arya Damar, penguasa Palembang. Di sinilah, tantangan hidupnya semakin terasa jelas, seorang wanita hamil, jauh dari tempatnya dihormati sebagai selir raja, kini hidup sebagai orang asing di daerah yang baru. Di kota Palembang, anak tersebut dilahirkan.

Dia mendapatkan nama Raden Patah, yang kemudian dibesarkan dalam lingkungan budaya yang berbeda. Meskipun ayahnya adalah raja Majapahit, Raden Patah tumbuh jauh dari kekuasaan.

Dalam perjalanan hidupnya, ia kemudian menjadi pemimpin Kesultanan Demak, yang merupakan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa, berperan penting dalam pergeseran kekuasaan dari masa Hindu-Budha ke era Islam. Sementara itu, kisah ibunya tidak berakhir dengan kemewahan.

Dia hidup jauh dari pusat kekuasaan, menanggung kesulitan akibat politik istana, dan menyaksikan pertumbuhan putranya dalam konteks baru. Tidak banyak informasi yang menjelaskan bagaimana akhir hidupnya.

Namun satu hal pasti, dia menjalani hidup dengan keberanian, meskipun sejarah istana berusaha melupakan namanya. Kisah ini menggambarkan bahwa sejarah bukan hanya milik mereka yang duduk di singgasana.

Ada perempuan-perempuan yang menjadi korban dari intrik, namun yang melahirkan tokoh-tokoh penting yang mengubah jalannya peradaban. Di balik pigura besar Raden Patah, terdapat seorang ibu yang kisahnya terabaikan akibat kecemburuan dan kekuasaan.

Sekarang, saat kita meninjau kembali halaman-halaman sejarah Majapahit, nama ibu Raden Patah pantas untuk dihargai.

Dia adalah lambang keteguhan, menjadi bukti bahwa perempuan dalam sejarah Nusantara bukan sekadar pelengkap, tetapi sumber kekuatan yang melahirkan generasi penerus bangsa. (Okta/FADYA)

Editor : Martda Vadetya
#raden fatah #palembang #majapahit #arya damar #ibu #permaisuri #kecemburuan