Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sutra Emas Majapahit, Doa yang Ditenun Menjadi Keindahan Abadi

Imron Arlado • Minggu, 2 November 2025 | 04:50 WIB

Anyaman emas Majapahit
Anyaman emas Majapahit

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Saat fajar menyingsing di atas puing-puing bata merah Trowulan, sinarnya memantulkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar debu dari era yang lampau. 

Di antara pecahan arca dan tembikar, para arkeolog pernah menemukan jejak halus yang nyaris tak terlihat, sisa benang logam tipis, melingkar seperti serpihan cahaya. 

Benda ini bukan logam biasa, melainkan sutra emas, menunjukkan bahwa Majapahit tidak hanya unggul dalam perang dan diplomasi, tetapi juga dalam keindahan dan nuansa seni. 

Pada abad ke-14, di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, Majapahit dikenal bukan hanya karena kekuatan militernya, melainkan juga karena kemakmurannya yang menumbuhkan seni tinggi. 

 

Baca Juga: Berdirinya Angkatan Moeda Mojokerto, Diprakarsai Tokoh Pemuda dan Dinakhodai dr Soekandar

 

Salah satu hasil budaya yang menakjubkan dari zaman tersebut adalah seni anyaman emas, kemampuan untuk mengolah logam mulia menjadi benang yang kemudian dianyam atau disulam menjadi kain, perhiasan, dan ornamen keagamaan. 

Menurut penelitian arkeolog dari Pusat Arkeologi Nasional, teknik ini merupakan hasil perpaduan antara tradisi lokal Jawa dengan pengaruh seni logam Tiongkok dan India. Namun, di tangan pengrajin Majapahit, emas ini tidak hanya menjadi tanda kemewahan, tetapi juga jembatan spiritual. 

Setiap benang dipercaya mengandung doa dan melambangkan sinar dewa yang menerangi dunia manusia. Seni anyaman emas bukan hanya aksesori tubuh, melainkan simbol harmoni antara dunia fisik dan spiritual. 

 

Dalam falsafah Bhinneka Tunggal Ika, cahaya emas melambangkan kesatuan di tengah perbedaan, seperti benang-benang yang berbeda warna namun berpadu menciptakan keindahan yang utuh. 

Setiap sulaman yang bersinar di bawah sinar matahari Trowulan mencerminkan keyakinan bahwa keindahan sejati muncul dari keseimbangan antara usaha manusia dan cahaya ilahi. 

 

Baca Juga: Takhta, Sudara dan Ambisi, Begini Cerita Raja Jayanegara yang Dikuasai Ketakutan

 

“Emas Majapahit tidak hanya dipakai, tapi juga diceritakan,” ujar sejarawan Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar. Ia menambahkan bahwa banyak artefak emas dari Majapahit ditemukan di lokasi suci seperti Candi Tikus dan Candi Brahu. 

Hal ini menunjukkan bahwa kilau emas lebih sering digunakan untuk persembahan dan ritual keagamaan ketimbang sebagai simbol kekuasaan duniawi. (Tri Yulia Setyoningrum/Linda)

Editor : Martda Vadetya
#Sutra Emas Majapahit #Seni Kerajaan #Majapahit Heritage #warisan nusantara #Spiritualitas Jawa