JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Di balik suara gamelan yang merdu dan cahaya emas istana, terdapat wangi lembut yang mengalir dari ruang pribadi para putri Majapahit.
Bukan dupa pemujaan, melainkan wangi daun pandan, bunga kenanga, dan minyak kelapa yang diolah dengan teliti, ramuan rahasia kecantikan kerajaan yang kini nyaris terlupakan.
Sejarawan dari Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, menjelaskan bahwa naskah seperti Kidung Sundayana menyebutkan bagaimana para putri kerajaan “mengoleskan lulur kuning” sebelum acara besar kerajaan.
Warna kuning tersebut berasal dari kunyit dan temulawak, bahan alami yang tidak hanya memberi rona keemasan pada kulit, tetapi juga berfungsi sebagai antiseptik alami untuk menjaga kebersihan tubuh di iklim tropis.
Baca Juga: Sedang Dikaji, Dua Situs Cagar Budaya Era Majapahit di Mojokerto Bakal Segera Dipugar BPK Wilayah XI
Selain lulur, campuran minyak kelapa dengan bunga melati dan kenanga dipakai untuk menghaluskan rambut. Rambut panjang dan hitam berkilau dianggap simbol kesuburan, keanggunan, dan kemuliaan wanita Jawa pada masa itu.
Namun, perawatan tubuh di Majapahit tidak hanya berkaitan dengan penampilan. Ia juga bagian dari ritual spiritual. Dalam pandangan budaya Jawa kuno, tubuh merupakan cerminan jiwa.
Merawat tubuh berarti menyucikan batin. Sebelum mengikuti upacara penting seperti Grebeg atau Tirta Kamandanu, para bangsawan melakukan mandi suci di kolam istana, airnya dicampurkan dengan bunga tujuh rupa dan rempah-rempah wangi.
Ritual ini diyakini sebagai penyatuan antara manusia dan alam, antara raga dan batin. Sementara itu, bedak dingin dari beras yang direndam semalaman, dicampur dengan pandan dan cendana adalah rahasia wajah bersinar para putri.
Baca Juga: Mahapati: Sosok Sengkuni Majapahit yang Hancur Karena Tipu Dayanya Sendiri
Tak hanya kaum bangsawan, para prajurit perempuan pun menggunakan bedak serupa untuk melindungi kulit dari panas matahari saat berlatih di lapangan istana.
Di desa-desa sekitar Trowulan, masih dijumpai perempuan yang menggunakan lulur boreh, minyak kelapa bunga, atau bedak beras kencur saat upacara adat. Resep-resep ini diwariskan dari generasi ke generasi, tanpa catatan tertulis, hanya melalui praktik dan ingatan para ibu dan nenek.
Kosmetika Majapahit dengan demikian bukan sekadar peninggalan kecantikan, melainkan cermin peradaban. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang herbal, filosofi harmoni, dan estetika yang tinggi.
Ia mengajarkan bahwa kecantikan sejati tidak datang dari topeng atau riasan, melainkan dari keseimbangan antara tubuh, jiwa, dan alam.
Sekarang, ketika dunia modern kembali menghormati bahan alami dan konsep kebugaran holistik, kita seolah kembali ke era Majapahit. Ketika daun, bunga, dan rempah sudah lebih awal memahami makna kecantikan yang sejati, yang muncul dari keseimbangan, bukan dari kemewahan. (Tri Yulia Setyoningrum/Linda)