JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tepatnya di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, terdapat situs bernama Watu Gajah yang menyimpan legenda unik tentang pertemuan antara dua tokoh besar.
Gajah Mada, seorang mahapatih terkenal dari kerajaan Majapahit, dan Sunan Bejagung Lor, seorang wali yang dikenal berilmu dan kuat secara spiritual.
Menurut cerita rakyat setempat, di sini terjadi pertarungan sengit antara keduanya. Kisah ini menunjukkan pertemuan antara kekuatan politik Majapahit dan kekuatan spiritual dari kalangan wali.
Hingga kini, batu-batu besar di sekitar lokasi tersebut dipercaya masyarakat sebagai bentuk badan dari pasukan gajah yang dikutuk oleh Sunan Bejagung Lor setelah pertempuran terhadap pasukan Majapahit.
Sunan Bejagung Lor atau Syekh Abdullah Asy’ari adalah salah satu ulama awal yang berhasil menyebarkan ajaran Islam di Tuban dan sekitarnya.Ia tinggal di kawasan Bejagung Lor, mendirikan pesantren, dan menjadi panutan bagi masyarakat sekitar.
Sementara itu, Gajah Mada adalah seorang mahapatih yang terkenal di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Dikenal karena Sumpah Palapa dan ambisinya menyatukan Nusantara di bawah pemerintahan Majapahit.
Konflik antara keduanya dimulai dari keinginan putri Raja Hayam Wuruk, yaitu Kusumawardhani, untuk berguru kepada Sunan Bejagung Lor. Keinginan ini memicu kekhawatiran di lingkungan istana.
Para pemimpin Majapahit, termasuk Gajah Mada, merasa khawatir bahwa tindakan sang putri akan mengganggu kestabilan kerajaan yang masih mengandalkan agama Hindu-Buddha.
Dengan demikian, Gajah Mada diperintahkan untuk menghentikan niat tersebut, bahkan dengan cara apa pun, termasuk menjumpai Sunan Bejagung Lor secara langsung di Tuban.
Menurut cerita yang beredar, Gajah Mada datang ke Bejagung dengan pasukan besar yang dibawa oleh gajah-gajah perang. Namun, dalam pertempuran yang terjadi, kekuatan spiritual Sunan Bejagung Lor jauh melebihi kekuatan fisik pasukan Majapahit.
Dikisahkan bahwa dengan bantuan doa dan kekuatan spiritualnya, Sunan Bejagung Lor mampu mengubah seluruh pasukan gajah menjadi batu. Batu-batu besar yang kini terdapat di sekitar lokasi tersebut kemudian dikenal sebagai ''Watu Gajah'', yang artinya ''batu gajah''.
Pertarungan antara keduanya tidak berakhir sampai di situ. Gajah Mada, yang dikenal tangguh, kemudian menantang Sunan Bejagung Lor dalam serangkaian ujian kesaktian.
Gajah Mada menunjukkan kekuatannya dengan mengguncang pohon kelapa hingga buahnya jatuh dan bisa diminum.
Namun, Sunan Bejagung Lor hanya melambaikan tangan, dan pohon kelapa yang diguncang tersebut melengkung ke bawah, membawa buahnya secara utuh.
Dalam ujian berikutnya, Gajah Mada mencoba menunjukkan kekuatannya dengan mengambil ikan dari laut, tapi ikan-ikan yang dibawanya ternyata sudah mati.
Sementara itu, Sunan Bejagung Lor dengan tenang menggunakan daun waru dan seember air, lalu berhasil mengangkat ikan yang masih hidup hingga ke darat. Adegan itu menggambarkan bahwa kekuatan spiritual dan kesabaran bisa mengalahkan kekuatan duniawi serta hasrat manusia.
Setelah mengalami beberapa kekalahan, Gajah Mada akhirnya mengakui kehebatan dan kesaktian Sunan Bejagung Lor.
Dalam beberapa versi cerita lisan, setelah dua kali kalah dalam pertandingan ilmu, Gajah Mada memutuskan untuk berhenti dan kembali ke Majapahit tanpa membawa hasil apa pun.
Ia bahkan disebutkan telah menghormati sang wali dan mengakui bahwa kekuatan sejati tidak hanya berasal dari kekuasaan, tetapi juga dari keimanan. Kisah pertarungan ini masih dikenang oleh masyarakat Tuban melalui tradisi lisan. (RIZMA/FADYA)
Editor : Martda Vadetya