Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Skandal Cinta di Zaman Majapahit: Putri Raja Jatuh Hati pada Tabib Istana!

Imron Arlado • Minggu, 2 November 2025 | 13:00 WIB
Kisah cinta terlarang antara Putri Raja, Dyah Wiyat dengan Ra Tanca, seorang tabib istana.
Kisah cinta terlarang antara Putri Raja, Dyah Wiyat dengan Ra Tanca, seorang tabib istana.

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di balik kejayaan dan keagungan Kerajaan Majapahit, tersimpan kisah cinta yang penuh liku dan sarat dengan intrik politik. Kisah ini berpusat pada sosok Dyah Wiyat, putri kedua dari pendiri Majapahit, Raden Wijaya.

Ia dianggap sebagai perempuan bangsawan yang sangat berpengaruh, namun juga sangat tragis dalam sejarah kerajaan. Kisah cintanya tidak hanya mengguncang lingkungan istana, melainkan juga memengaruhi dinamika kekuasaan di masa itu.

Dyah Wiyat adalah anak Raden Wijaya dan Gayatri Rajapatni, serta adik dari Dyah Gitarja yang kemudian menjadi raja Tribhuwana Tunggadewi.

Sejak muda, ia menempati posisi penting di istana. Ia diangkat sebagai penguasa wilayah Daha dengan gelar Rajadewi Maharajasa Bhre Daha, yang membuatnya berada di lingkaran kekuasaan tertinggi di Majapahit.

Namun, di balik masa depan yang cemerlang, Dyah Wiyat memiliki kisah asmara yang rumit. Ia dikabarkan berpacaran dengan Ra Tanca, seorang tabib dari kalangan rakyat biasa.

Ra Tanca adalah anggota Dharmaputra, kelompok elit pelindung istana yang dibentuk oleh Raden Wijaya. Hubungan mereka berlangsung secara diam-diam karena perbedaan status sosial. Dyah Wiyat sering berpura-pura sakit agar bisa bertemu Ra Tanca.

Beberapa cerita lisan mengatakan hubungan keduanya berlangsung cukup lama meski diselimuti rasa takut akan aib dan pelanggaran etika bangsawan.

Namun, perbedaan status akhirnya membuat Ra Tanca menyerah pada keadaan, ia merasa tidak mungkin menikahi seorang putri raja.

Dengan sedih, ia memilih menjauh dan menikahi perempuan lain. Dyah Wiyat yang patah hati harus hidup dalam tekanan, baik secara emosional maupun politik, karena tetap harus menjalankan perannya sebagai bangsawan.

Setelah hubungan dengan Ra Tanca berakhir, Dyah Wiyat dijodohkan dengan Raden Kudamerta, yang bergelar Bhre Wengker. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan untuk memperkuat hubungan politik antara wilayah Daha dan Wengker.

Namun, Kudamerta sudah memiliki istri pertama, Dyah Menur, dan satu anak laki-laki. Fakta ini membuat posisi Dyah Wiyat semakin sulit, karena ia menjadi istri kedua dalam pernikahan yang dipenuhi sarat kepentingan politik, sementara hatinya tetap terikat pada cinta masa lalu.

Situasi kian rumit ketika hubungan antara Dyah Wiyat dan Ra Tanca kembali mencuat ke permukaan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa keduanya pernah kembali bertemu secara diam-diam meskipun Dyah Wiyat sudah menikah.

Hubungan ini memicu konflik di lingkungan kerajaan, menimbulkan gosip dan ketegangan di kalangan bangsawan Majapahit. Bahkan, intrik pribadi ini diduga berdampak pada hubungan politik antar wilayah di bawah pemerintahan Majapahit.

Lebih jauh lagi, kisah ini bukan hanya soal cinta, tetapi juga berkaitan dengan persaingan pengaruh di dalam lingkaran kekuasaan Majapahit.

Misalnya, status Dyah Wiyat sebagai anggota Saptaprabhu, dewan keluarga kerajaan yang berperan memberi nasihat dalam pengambilan keputusan penting kerajaan, hal ini menunjukkan bahwa ia bukan hanya sosok romantis, tetapi juga tokoh yang aktif dalam politik. (RIZMA/Linda)

Editor : Martda Vadetya
#cinta #Raden Wijaya #Dyah Wiyat #ra tanca #majapahit #Bhre Wengker #tabib