JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di sebuah dapur sederhana di Trowulan, wangi jahe, serai, dan santan mengepul perlahan, menelusup ke udara sore yang lembap.
Setiap helai aromanya seakan menjadi jembatan waktu, membawa imajinasi kita menembus enam abad silam, ke masa ketika para juru masak istana sibuk meracik jamuan untuk Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi dan para bangsawan Majapahit.
Di balik tungku tanah liat dan uap yang naik dari periuk tembaga, tersimpan kisah tentang peradaban yang tidak hanya berkuasa dengan pedang dan politik, tetapi juga dengan rasa-rasa yang lahir dari perpaduan rempah, kesabaran, dan seni mengolah kehidupan.
Dari berbagai catatan prasasti dan temuan arkeolog, terungkap bahwa kejayaan Majapahit tidak hanya terpancar di medan diplomasi dan peperangan, tetapi juga di dapur-dapur istananya.
Di sanalah kerajaan ini membangun peradaban rasa, tempat bumbu, rempah, dan falsafah hidup berpadu dalam harmoni.
Setiap racikan bukan sekadar soal selera, melainkan cerminan cara Majapahit memahami dunia: bahwa keseimbangan dan keberagaman bisa diolah menjadi satu cita rasa yang menyatukan Nusantara.
Baca Juga: Sedang Dikaji, Dua Situs Cagar Budaya Era Majapahit di Mojokerto Bakal Segera Dipugar BPK Wilayah XI
Jejak Rasa di Tanah Merah Trowulan
Penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta bersama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengungkap jejak kehidupan domestik Majapahit melalui berbagai artefak rumah tangga yang ditemukan di situs Trowulan.
Dari lapisan tanah abad ke-14 itu, para arkeolog menyingkap wadah-wadah tanah liat, kendi air, tungku masak, hingga alat penumbuk bumbu, saksi bisu aktivitas dapur kerajaan di masa silam.
Di antara temuan tersebut, terdapat pula sisa arang dan biji-bijian yang merekam pola makan masyarakat Majapahit. Mulai dari beras dan kacang-kacangan, hingga ikan air tawar yang diduga berasal dari aliran sungai Brantas yang kala itu menjadi sumber kehidupan utama kerajaan.
Baca Juga: Mahapati: Sosok Sengkuni Majapahit yang Hancur Karena Tipu Dayanya Sendiri
Prasasti-prasasti seperti Biluluk dan Trowulan II mencatat dengan rinci berbagai bahan pangan yang digunakan dalam upacara kerajaan. Mulai dari nasi putih yang harum, lauk daging dan ikan asin, beragam sayuran, hingga minuman manis yang dibuat dari kelapa dan gula aren.
Catatan itu menunjukkan betapa dapur Majapahit bukan sekadar ruang memasak, melainkan cerminan kemakmuran dan kemampuan kerajaan mengelola sumber daya pangan secara mandiri.
Dari hasil bumi hingga hasil laut, semuanya berpadu dalam tatanan kuliner yang teratur dan berlimpah, menggambarkan betapa kuatnya sistem pertanian dan perdagangan yang menopang kejayaan Majapahit di masa itu. (BINTANG PURNAMA/Linda)
Editor : Martda Vadetya