JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Saat matahari terbenam di barat, cahayanya memantul lembut di atas permukaan air tenang kolam besar berwarna merah di Trowulan, Mojokerto. Air itu tidak sekadar diam, ia memantulkan langit, pepohonan, dan bayangan manusia yang menatapnya.
Ini adalah Segaran, taman air yang diwariskan dari Kerajaan Majapahit, yang hingga kini tetap menjadi saksi bisu akan kejayaan sebuah peradaban yang pernah menyatukan Nusantara.
Menurut catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, taman air Segaran dibangun sekitar abad ke-14, pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Kolam ini memiliki panjang 375 meter dan lebar 125 meter, dikelilingi oleh tembok bata merah setinggi tiga meter.
Struktur airnya tersambung dengan sistem kanal yang menyalurkan air dari sungai kecil di sekitar Bejijong. Untuk ukuran abad ke-14, teknologi pengairan Majapahit sangatlah mengesankan.
Hasil penelitian Pusat Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) menunjukkan bahwa bata penyusun Segaran disusun tanpa semen, tetapi tetap rapat dan kedap air. Sistem pembuangan air bawah tanahnya memungkinkan pengaturan aliran air dengan baik, menandakan kecanggihan teknik hidrologi pada masa itu.
“Air di Segaran bukan hanya untuk diminum, tapi untuk menyucikan diri,”
Tulis arkeolog Belanda Krom dalam catatan ekspedisi kolonialnya pada awal abad ke-20. Bagi Majapahit, mengatur air berarti mengatur kehidupan. Tak mengherankan jika mereka membangun jaringan kanal hingga ke Brantas, yang menghubungkan kota kerajaan dengan pelabuhan Canggu dan Tuban.
Baca Juga: Riwayat Pengelolaan Tanah dan Pajak di Era Kerajaan Majapahit
Dalam kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca, disebut bahwa taman air menjadi tempat perjamuan kerajaan. Di sinilah raja, bangsawan, dan tamu dari negara lain menikmati hidangan di atas perahu kecil, sambil dihibur dengan tarian dan gamelan.
Air menjadi saksi diplomasi, tempat di mana kekuasaan dirayakan dengan keindahan. Legenda masyarakat menambah lapisan cerita, konon setelah jamuan, raja dan tamunya membuang piring emas ke dasar Segaran.
Bukan karena boros, tetapi sebagai simbol sedekah bumi, pengorbanan kepada alam agar kerajaan tetap makmur. Hingga saat ini, masih ada warga yang meyakini bahwa di bawah kolam Segaran tersembunyi harta emas Majapahit.
Namun, bagi para sejarawan, emas sesungguhnya bukan terpendam di dasar air, melainkan pada nilai-nilai luhur yang diwariskan darinya, keselarasan, kemurahan hati, dan penghormatan terhadap alam.
Bagi orang-orang Majapahit, air adalah cermin, baik secara fisik maupun spiritual. Ketika seorang raja melihat pantulan dirinya di air Segaran, ia diingatkan bahwa kekuasaan hanyalah bayangan dari yang Maha Agung.
Filosofi ini sejalan dengan ajaran “manunggaling kawula gusti”, yang merupakan konsep penyatuan antara manusia dan Tuhan yang mulai muncul di akhir masa Majapahit. Segaran dengan demikian bukan hanya taman air, tetapi juga ruang meditasi dan perenungan diri.
Ia mengajarkan keseimbangan antara ambisi dan kebijaksanaan, antara kejayaan dan ketenangan. Kini, Segaran bukan lagi taman pribadi kerajaan, melainkan taman bagi seluruh rakyat.
Baca Juga: Keunggulan Sistem Pertanian yang Menguatkan Ekonomi Kerajaan Majapahit
Ribuan pengunjung datang setiap tahun untuk menikmati keindahan pemandangan dan sejarahnya. Setiap bulan Suro, masyarakat Mojokerto menggelar ritual Ruwatan Bumi Segaran, tradisi membersihkan kolam dengan bunga tujuh rupa, doa, dan air suci sebagai simbol penyucian bumi Majapahit.
Upacara ini menegaskan bahwa Segaran tetap hidup, bukan sekadar situs arkeologis, tetapi “tubuh air” yang masih berdenyut bersama masyarakatnya.
Pemerintah Kabupaten Mojokerto pun tengah memperjuangkan agar kawasan Trowulan, termasuk Segaran, diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO, mengingat nilai sejarah dan teknologinya yang luar biasa.
Lebih dari enam ratus tahun telah berlalu, tetapi refleksi langit di permukaan air Segaran tetap tak berubah. Di sanalah waktu berhenti, menyimpan memori kerajaan yang pernah memimpin Nusantara dengan kejayaan dan kebijaksanaan.
Segaran mengingatkan kita bahwa kejayaan bukan semata-mata tentang istana dan peperangan, tetapi juga tentang bagaimana manusia berupaya menjaga keseimbangan dengan lingkungan sekitar.
Seperti kata pepatah Jawa kuno yang sering diulang di Trowulan: “Sapa bisa ngreksa banyu, iku bisa ngreksa urip”. Siapa yang dapat menjaga air, berarti ia mampu memelihara kehidupan. (Tri Yulia Setyoningrum/Linda)
Editor : Martda Vadetya