Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Perebutan Takhta Berdarah di Kerajaan Majapahit, Begini Kisah Kelam Nasib Bhre Wirabhumi

Imron Arlado • Kamis, 30 Oktober 2025 | 05:00 WIB
Kehilangan yang menyedihkan Bhre Wirabhumi, putra Hayam Wuruk, mencerminkan betapa sengitnya pertarungan untuk mendapatkan tahta pada masa kejayaan Majapahit.
Kehilangan yang menyedihkan Bhre Wirabhumi, putra Hayam Wuruk, mencerminkan betapa sengitnya pertarungan untuk mendapatkan tahta pada masa kejayaan Majapahit.

Jawa Pos Radar Majapahit -  Kisah keberhasilan Majapahit tidak selalu terdiri dari kemegahan dan kebesaran. Tersimpan di balik reputasi besar kerajaan yang pernah menyatu dengan Nusantara ini, terdapat cerita kelam mengenai perebutan kekuasaan yang berujung pada kematian tragis seorang bangsawan, Bhre Wirabhumi, putra dari Raja Hayam Wuruk.

Bhre Wirabhumi bukanlah buah hati dari permaisuri, melainkan anak seorang selir. Meskipun berdarah raja, keberadaannya di istana tidak sekuat keturunan dari istri resmi. Namun, setelah Hayam Wuruk meninggal, perbedaan keturunan tersebut justru memicu perpecahan yang signifikan dalam kerajaan.

Setelah kematian raja, Majapahit terfragmentasi menjadi dua kekuasaan. Majapahit Barat, dipimpin oleh Bhre Wikramawardhana, menantu Hayam Wuruk dan Majapahit Timur, yang berada di bawah penguasaan Bhre Wirabhumi.

Awalnya, pembagian ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas politik. Namun, seiring waktu, hasrat dan kecemburuan mulai tumbuh di antara mereka.

Konflik mencapai titik tertinggi saat Bhre Wirabhumi merasa wilayahnya diperlakukan secara tidak adil.

Ia berkeyakinan bahwa dirinya lebih layak untuk memimpin seluruh Majapahit karena darah Hayam Wuruk mengalir dalam dirinya. Dari situ, perang saudara meletus, perang yang dikenal kemudian sebagai Perang Paregreg (1404–1406 M).

 

 

Selama dua tahun, Majapahit diwarnai oleh kekacauan. Pasukan dari masing-masing pihak saling menyerang, desa-desa hancur, dan masyarakat menjadi korban dari ambisi para penguasa.

Pada akhirnya, Bhre Wirabhumi mengalami kekalahan. Ia ditangkap oleh tentara dari kubu barat yang dipimpin oleh Wikramawardhana. Akan tetapi, alih-alih diperlakukan dengan terhormat sebagai seorang bangsawan, Bhre Wirabhumi justru mengalami nasib malang.

Dalam catatan sejarah, tercatat bahwa kepalanya dipenggal dan dibawa ke istana Majapahit sebagai simbol kemenangan pihak lawan. Tindakan yang sangat kejam, akan tetapi umum terjadi dalam politik kuno sebagai penegasan kekuasaan dan peringatan bagi mereka yang memberontak.

Peristiwa ini tidak hanya menandai akhir hidup Bhre Wirabhumi, tetapi juga menandai permulaan kemunduran Majapahit.

Perang saudara tersebut telah melemahkan pertahanan kerajaan, menghabiskan sumber daya, dan meruntuhkan wibawa Majapahit di hadapan daerah-daerah taklukan. Selanjutnya, pengaruh kerajaan secara perlahan menurun hingga akhirnya runtuh pada akhir abad ke-15.

Tragedi pemenggalan Bhre Wirabhumi sering kali diartikan sebagai simbol krisis moral di kalangan istana Majapahit. Kekuasaan yang seharusnya berfungsi untuk melindungi kesejahteraan rakyat, justru bertransformasi menjadi alat untuk perebutan di antara kalangan bangsawan sendiri.

Dari sini, terlihat bahwa bahkan kerajaan sekuat Majapahit tidak mampu terhindar dari intrik keluarga dan ambisi politik yang merusak.

Hingga saat ini, kisah tragis kematian anak Hayam Wuruk itu tetap menjadi bagian gelap dari sejarah Nusantara. Ia menjadi pengingat bahwa kehormatan bisa hancur bukan hanya karena ancaman eksternal, melainkan karena perpecahan internal.

Kisah Bhre Wirabhumi tidak hanya sekedar narasi tentang darah dan senjata, tetapi juga pelajaran tentang bahaya ambisi tanpa batas dan biaya tinggi akibat perebutan kekuasaan.

Majapahit memang pernah mengalami kejayaan, tetapi di balik kilau keemasannya, terdapat luka yang mengajari bahwa bahkan dinasti paling besar pun dapat runtuh oleh tindakan keluarganya sendiri. (Okta/Linda)

Editor : Martda Vadetya
#Bhre Wirabhumi #selir #meninggal #hayam wuruk #perang paregreg #kecemburuan