Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Takhta, Sudara dan Ambisi, Begini Cerita Raja Jayanegara yang Dikuasai Ketakutan

Imron Arlado • Kamis, 30 Oktober 2025 | 04:00 WIB
Jayanegara lebih dikenal bukan karena kekayaannya, tetapi karena usahanya yang ekstrem dalam melindungi tahta Majapahit.
Jayanegara lebih dikenal bukan karena kekayaannya, tetapi karena usahanya yang ekstrem dalam melindungi tahta Majapahit.

Jawa Pos Radar Majapahit - Kisah Raja Jayanegara, penguasa kedua dari Kerajaan Majapahit, terungkap sebagai salah satu periode paling kelam dalam sejarah kerajaan besar tersebut.

Ia tidak dikenang karena keberhasilannya dalam memperluas daerah atau memperkuat kekuasaan, tetapi karena tindakan-tindakannya yang sering kali melanggar batas, bahkan terhadap anggota keluarganya sendiri.

Jayanegara mengambil alih tahta pada tahun 1309 M, menggantikan ayahnya, Raden Wijaya, yang merupakan pendiri Majapahit. Namun, sejak awal posisinya tidak sepenuhnya solid.

Ia merupakan anak dari salah satu selir Raden Wijaya, bukan dari permaisuri yang utama. Oleh karena itu, banyak bangsawan yang meragukan legitimasi kekuasaannya dan memandangnya dengan skeptis.

Dalam tekanan dan ketakutan akan kehilangan tahtanya, Jayanegara memilih untuk mengambil langkah drastis.

Ia melarang kedua adik perempuannya, Tribhuwana Tunggadewi dan Dyah Wiyat, untuk mendapatkan suami. Alasannya sederhana namun kelam, ia sangat takut jika calon suami dari adik-adiknya dapat menyainginya atau merebut tahta yang dimilikinya.

 

 

Tindakan tersebut jelas sangat tidak biasa, terutama bagi seorang raja yang diharapkan untuk menjunjung tinggi tradisi dan kehormatan kerajaan.

Beberapa catatan kuno bahkan mengisahkan bahwa Jayanegara memiliki keinginan untuk menikahi kedua adiknya, bukan karena cinta, tetapi demi memastikan tahtanya tetap di tangannya. Tindakan inilah yang membuatnya dianggap sebagai raja yang "keblinger", kehilangan arah karena ambisi untuk berkuasa.

Cerita ini mencerminkan betapa dalamnya ketakutan Jayanegara terhadap kemungkinan adanya perebutan kekuasaan. Ia melihat ancaman di sekitarnya, bahkan dari lingkungan keluarganya sendiri. Ia tidak menyadari bahwa tindakannya justru membuatnya dibenci dan memicu pemberontakan dari kalangan istana.

Para sejarawan mencatat bahwa masa pemerintahannya sarat dengan gejolak. Terdapat beberapa pemberontakan signifikan, seperti pemberontakan Kuti dan Ra Semi.

Semua ini menunjukkan bahwa rakyat dan para bangsawan mulai kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Jayanegara yang dianggap lemah dan egois. Ia pun memperoleh gelar "Kala Gemet", yang berarti jahat dan penakut dalam bahasa Jawa.

 

 

Ironisnya, di tengah semua kekacauan tersebut, kedua adiknya yang sebelumnya dibatasi justru menjadi tokoh penting setelah kematiannya. Tribhuwana Tunggadewi berhasil naik tahta dan memimpin Majapahit ke era kejayaan baru yang jauh lebih cemerlang dibandingkan masa yang dialami kakaknya.

Dari tangan Tribhuwana lahirlah raja agung Hayam Wuruk yang kemudian mengangkat Majapahit ke puncak kejayaannya.

Kematian Jayanegara juga menyimpan banyak misteri. Ia dilaporkan tewas dibunuh oleh tabibnya sendiri, Ra Tanca, saat dalam keadaan sakit.

Ada yang menggambarkan tindakan tersebut sebagai pengkhianatan, sementara yang lain percaya bahwa itu adalah ekspresi perlawanan terhadap kebijakan sang raja yang dianggap sudah melampaui batas.

Apapun kebenarannya, Jayanegara menjadi simbol klasik dari seorang penguasa yang dikuasai oleh ketakutan. Ia berusaha mempertahankan kekuasaan, tetapi pada akhirnya justru kehilangan segalanya dari tahta sampai nyawanya sendiri.

Dari kisah Jayanegara, dapat diambil pelajaran bahwa tanpa kebijaksanaan, kekuasaan hanya akan mendatangkan kehancuran. Seorang pemimpin yang beroperasi dengan rasa curiga dan ambisi pribadi akan menanamkan benih keruntuhan bagi dirinya sendiri.

Majapahit mungkin tetap bertahan setelah kepergiannya, tetapi masa pemerintahannya akan selalu menjadi pengingat abadi: bahwa ketakutan kehilangan kekuasaan sering kali jauh lebih berbahaya daripada kehilangan itu sendiri. (Okta/Linda)

Editor : Martda Vadetya
#majapahit #tradisi #menikahi 2 wanita #Jayanegara #pemberontakan #keblinger