Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Makam dan Kekuasaan: Menelisik Tradisi Pemakaman di Era Majapahit

Imron Arlado • Kamis, 30 Oktober 2025 | 03:00 WIB
Prosedur pemakaman pada waktu itu menggambarkan nilai-nilai Hindu Buddha, yang dianut bersamaan dengan berbagai budaya lokal yang ada.
Prosedur pemakaman pada waktu itu menggambarkan nilai-nilai Hindu Buddha, yang dianut bersamaan dengan berbagai budaya lokal yang ada.

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Di puncak kejayaan Majapahit, proses pemakaman lebih dari sekadar menanam jenazah, melainkan merupakan suatu upacara suci dengan kedalaman makna spiritual dan politik.

Prosedur pemakaman pada waktu itu menggambarkan nilai-nilai Hindu Buddha, yang dianut bersamaan dengan berbagai budaya lokal yang ada.

Biasanya, jenazah akan dibersihkan dan dimandikan melalui ritual oleh para pelayan atau penyelenggara upacara kerajaan, penggunaan persembahan dan doa tertentu menjadi bagian esensial dalam membantu arwah bertransisi melewati alam mistis menuju keabadian.

 

 

Pemakaman untuk raja dan kaum bangsawan dilakukan secara khusus dengan dilengkapi makam yang besar dan simbol-simbol yang kuat, seperti ornamen matahari Majapahit yang melambangkan keagungan dan kekuasaan kerajaan, makam-makam ini mencerminkan status sosial sekaligus simbol keabadian bagi penguasa.

Tempat pemakaman penting seperti Kompleks Makam Troloyo yang terletak di Trowulan menunjukkan bagaimana agama Islam mulai berbaur dengan tradisi kuno Majapahit.

Di lokasi ini, terdapat nisan dengan ukiran yang menampilkan aksara Arab dan Jawa serta simbol matahari, yang menjadi bukti perpaduan antara budaya dan agama dalam periode transisi.

Tradisi pemakaman yang menggabungkan Islam dan elemen budaya lokal, mempertegas kesinambungan antara spiritualitas dan politik di antara generasi kekuasaan.

 

 

Konsep spiritual mengenai kematian di Majapahit berkaitan erat dengan pemahaman tentang keselamatan jiwa dan kelanjutan eksistensi, ritual Sraddha yang mirip dengan Yajna dalam tradisi Hindu dilangsungkan sebagai bentuk penghormatan dan penyucian jiwa.

Pemakaman tidak hanya berfungsi sebagai penghormatan terakhir, tetapi juga sebagai alat legitimasi politik, raja dan kalangan elite yang menunjukkan kuasa dan sifat ketuhanan mereka melalui ritual kematian serta makam yang megah, meyakinkan rakyat mengenai kelangsungan kekuasaan.

Legitimasi politik yang diperoleh melalui kematian dapat berfungsi untuk memperkuat atau meruntuhkan kekuasaan. Kepemimpinan sering diwariskan secara turun-temurun, namun tidak jarang terjadi perebutan kekuasaan yang berkepanjangan, seperti dalam Perang Paregreg.

 

 

Makam serta upacara pemakaman menjadi representasi visual dan spiritual dari keturunan dan keabsahan penguasa, di sisi lain, jika seorang penguasa meninggal dalam keadaan yang tidak jelas atau ritual yang tidak lengkap, hal ini sering dianggap sebagai tanda melemahnya kekuasaan.

Dengan perkembangan zaman, komunitas Muslim yang berada di sekitar daerah Majapahit mendirikan kompleks pemakaman seperti Makam Troloyo, yang kini berfungsi sebagai situs warisan budaya dan objek wisata religi, mencakup nilai sejarah serta spiritual.

Hal ini menunjukkan bahwa lokasi pemakaman juga memiliki peran sebagai tempat konsolidasi sosial dan pengingat konstan mengenai hubungan antara kehidupan duniawi dan keabadian.

Pemahaman mengenai pemakaman di Majapahit menawarkan wawasan mendalam tentang posisi kematian sebagai elemen krusial dalam struktur sosial dan politik dari kerajaan yang besar ini, sehingga menjadikan makam serta ritual sebagai alat simbolik untuk mempertahankan kekuasaan sekaligus merawat nilai-nilai spiritual. (Dzafir Kirana Adelia/Linda)

Editor : Martda Vadetya
#Kaum Bangsawan #raja #pemakaman #warisan budaya #makam troloyo #Pada #tradisi #yang #Era #kerajaan majapahit #Dilakukan