Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sistem Penyembuhan Tradisional di Majapahit dan Perjuangan Melawan Wabah di Era Klasik

Imron Arlado • Kamis, 30 Oktober 2025 | 01:33 WIB
Penduduk Majapahit sering memanfaatkan berbagai tumbuhan herbal sebagai bahan untuk meracik jamu dan ramuan obat
Penduduk Majapahit sering memanfaatkan berbagai tumbuhan herbal sebagai bahan untuk meracik jamu dan ramuan obat

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit yang dikenal sangat berprestasi antara abad ke-14 dan awal abad ke-15, telah berhasil mempertahankan tradisi penyembuhan tradisional yang memanfaatkan banyak jenis tanaman obat.

Proses penyembuhan ini dilakukan dengan cara tradisional dan medis, digabungkan dengan kepercayaan spiritual yang mendalam.

Penduduk Majapahit sering memanfaatkan berbagai tumbuhan herbal seperti jahe, kunyit, kencur, lempuyang, temu kunci, serta daun sirih dan buah mengkudu sebagai bahan untuk meracik jamu, ramuan obat yang digunakan untuk perawatan maupun menjaga kesehatan sehari-hari.

 

 

Tabib kerajaan memiliki peranan yang sangat penting dalam sistem kesehatan kerajaan, salah satu tabib yang terkenal adalah Ra Tanca, dikenal karena memiliki keterampilan medis yang luar biasa dan melayani raja serta para bangsawan.

Pendekatan pengobatan dilakukan dengan metode medis yang mencakup pijat, pemberian obat herbal, dan bahkan operasi sederhana, didukung oleh metode nonmedis yang mengandalkan kekuatan gaib sesuai dengan kepercayaan masyarakat pada zaman itu.

Pembuatan obat tradisional umumnya dilakukan dengan cara manual, dimulai dari panen bahan segar, pencucian, penjemuran, penumbukan dengan menggunakan alu dan lumpang, hingga perebusan dalam periuk tanah.

Jamunya sering kali memiliki rasa pahit dan asam, meskipun terkadang juga ditambahkan madu atau gula aren sebagai pemanis alami.

 

 

Dukun dan empu yang juga memiliki keahlian dalam meracik jamu memegang peran penting tidak hanya dalam meramu, tetapi juga menentukan waktu pembuatan yang sesuai dengan kalender Jawa dan fase bintang, agar obat menjadi lebih mujarab.

Majapahit juga terkenal menghadapi masalah wabah penyakit atau pagebluk, wabah ini menjadi tantangan signifikan di akhir kejayaan kerajaan, masyarakat Jawa pada masa itu percaya bahwa wabah bisa disebabkan oleh pengaruh makhluk halus dan penyakit fisik.

Penanganan wabah dilakukan dengan langkah-langkah tradisional, termasuk adanya penggunaan tanaman obat yang diyakini mampu melawan penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Meskipun demikian, tidak ada catatan yang meyakinkan mengenai adanya pandemi besar setara dengan wabah global yang terjadi sebelum runtuhnya Majapahit.

Namun, wabah lokal dan kelaparan akibat krisis politik dan sosial tercatat memperburuk keadaan kerajaan di akhir masa pemerintahannya.

 

 

Keterpurukan Majapahit pada abad ke-15 juga dihubungkan dengan kemunduran dalam pemerintahan dan kondisi sosial ekonomi yang semakin memburuk, termasuk dampak dari wabah penyakit dan kelaparan yang melanda secara bersamaan.

Catatan sejarah menyebutkan adanya wabah yang disertai kelaparan pada tahun 1426 M yang makin memburukkan kondisi kerajaan, sehingga melemahkan pertahanan dan stabilitas politik.

Melalui sistem penyembuhan tradisional serta tabib yang terampil, ditambah dengan kekayaan flora sebagai sumber tanaman obat, Majapahit menunjukkan bagaimana masyarakat pada masa lalu mengelola kesehatan dan menghadapi epidemi dengan cara yang beragam.

Yaitu dengan menggabungkan pengobatan herbal medis dan kepercayaan budaya yang mendalam. (Dzafir Kirana Adelia/FADYA)

Editor : Martda Vadetya
#ra tanca #tumbuhan herbal #medis #Penyembuhan #tradisi #tradisional #tabib #kerajaan majapahit