JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Koin Gobog adalah salah satu jenis uang kuno di Indonesia yang berasal dari masa Kerajaan Majapahit.
Berbeda dengan koin logam mulia seperti dinar emas dan dirham perak, Gobog dibuat dari tembaga dan mempunyai nilai yang lebih rendah.
Konon, koin ini banyak dibawa dari China antara abad ke-11 sampai abad ke-14 Masehi, dengan bentuk dan lubang persegi yang mirip dengan koin kepeng China.
Bentuk fisik koin Gobog relatif tidak seragam karena teknologi cetak saat itu belum secanggih sekarang. Ukuran koin ini bervariasi, mulai dari diameter 29 hingga 86 milimeter, tebal sekitar 2 hingga 6 milimeter, dan berat dari 16 hingga 213 gram.
Di sisi depan, biasanya terdapat ukiran relief gambar wayang, senjata seperti cakra, serta pohon beringin. Sementara di sisi belakang terdapat gambar pohon, senjata, dan sesaji.
Beberapa motif lain seperti ular, burung, ayam, perahu, dan bendera juga sering muncul di koin ini.
Selain Gobog, Kerajaan Majapahit juga menggunakan jenis koin lain seperti kepeng dan ma. Ukuran kepeng lebih kecil daripada Gobog, sekitar 3 sentimeter dengan lubang persegi di tengahnya yang berbentuk lingkaran.
Sedangkan koin ma jauh lebih kecil lagi, dengan diameter sekitar 1 sentimeter, dan terbuat dari logam mulia seperti emas dan perak, sehingga terlihat lebih cerah dibandingkan Gobog atau kepeng yang menggunakan tembaga.
Menariknya, koin ma memiliki tulisan huruf ''ma'' dalam aksara Dewanagari, yang menunjukkan pengaruh budaya India. Namun, koin kepeng dan ma diduga berasal dari luar wilayah Majapahit, sedangkan Gobog merupakan hasil produksi lokal.
Proses pembuatan Gobog dilakukan dengan memanaskan campuran tembaga hingga suhu di atas 1.000 derajat Celcius, lalu dituangkan ke dalam cetakan. Selama masa Majapahit, Gobog tidak hanya digunakan sebagai alat pembayaran, tapi juga sebagai alat pembayaran pajak.
Seiring berjalannya waktu, fungsi koin ini berubah. Di beberapa wilayah Indonesia, terutama di Jawa dan Bali, Gobog yang dahulu digunakan untuk bertransaksi sekarang sering dijadikan bagian dari sesajen, upacara adat, atau jimat.
Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Majapahit masih terasa dalam budaya setempat meskipun koin ini tidak lagi digunakan sebagai alat tukar.
Nilai sejarah koin Gobog membuatnya sangat diminati oleh kolektor uang kuno. Harga satu koin bisa berkisar dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung pada kondisi dan keasliannya.
Mata uang kuno ini dianggap sebagai bagian penting dari sejarah peradaban di Nusantara dan menjadi bukti adanya aktivitas ekonomi dan budaya pada masa kerajaan Majapahit.
Warisan koin Gobog sebagai mata uang kuno dan bagian dari budaya tradisional Indonesia menunjukkan kemegahan sejarah Kerajaan Majapahit serta kekayaan budaya yang masih hidup sampai saat ini, melintasi peran uang sebagai alat tukar, pajak, hingga benda ritual dan koleksi bernilai. (RIZMA/FADYA)
Editor : Martda Vadetya