Jawa Pos Radar Majapahit - Kerajaan Majapahit dikenal sebagai lambang kejayaan di Nusantara. Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, wilayahnya luas dan bahkan dikatakan mencakup sebagian besar wilayah Asia Tenggara.
Namun, kejayaan tersebut perlahan-lahan mengalami penurunan. Setelah mencapai puncak yang mengesankan, Majapahit mulai menunjukkan tanda-tanda kelemahan dari dalam.
Banyak faktor yang berkontribusi pada kemunduran Majapahit. Penyebabnya tidak semata-mata disebabkan serangan eksternal, tetapi juga disebabkan oleh perpecahan di dalam yang membuat kerajaan tersebut kehilangan fokus dan kekuatannya.
Salah satu penyebab utama yang mengakibatkan pelemahan Majapahit adalah Perang Paregreg antara tahun 1404 dan 1406.
Pertikaian ini melibatkan dua tokoh dari kalangan keluarga kerajaan, Wikramawardhana (menantu Hayam Wuruk) dan Bhre Wirabhumi (anak Hayam Wuruk dari selir). Keduanya berseteru mengenai siapa yang seharusnya mengambil alih takhta setelah kematian raja.
Perang saudara ini berlangsung selama dua tahun dan memberikan dampak yang signifikan. Ribuan prajurit tewas, banyak desa yang dihancurkan, dan perekonomian kerajaan mengalami kehancuran.
Bahkan setelah konflik berakhir, Majapahit tidak dapat mengembalikan kestabilan politiknya. Banyak daerah subur yang sebelumnya setia kini memilih untuk merdeka karena pusat kekuasaan dinilai lemah.
Selain konflik bersenjata, faktor lain yang mempercepat kemunduran Majapahit adalah melemahnya kekuatan pusat.
Pasca-wafatnya Hayam Wuruk, tidak ada pemimpin yang mampu menyamai kebijaksanaan dan daya tariknya. Pergantian pemimpin yang terlalu cepat serta pertikaian jabatan di kalangan bangsawan mengakibatkan pemerintah menjadi tidak stabil.
Di sisi lain, sektor ekonomi Majapahit juga mulai mengalami masalah. Ketika terjadi konflik internal, aktivitas perdagangan terganggu dan jalur pelayaran kehilangan keamanannya.
Para pedagang asing mulai beralih ke pelabuhan lain di luar jangkauan Majapahit, seperti Malaka dan Pasai yang saat itu sedang berkembang dengan pesat. Hal ini menyebabkan pendapatan kerajaan menurun secara drastis.
Faktor penting lainnya adalah pengaruh agama Islam yang semakin menyebar di wilayah pesisir. Banyak daerah yang dulunya di bawah kekuasaan Majapahit beralih untuk mendukung kerajaan-kerajaan Islam yang baru muncul, seperti Demak dan Gresik.
Perubahan ini tidak hanya terkait kepercayaan saja, tetapi juga mengubah struktur sosial dan politik yang mempengaruhi alur kekuasaan di Nusantara.
Tidak hanya itu, kemerosotan moral di kalangan pejabat juga memperburuk kondisi. Banyak dari mereka lebih fokus pada pengumpulan kekayaan pribadi daripada memperkuat kerajaan.
Intrik, pencemaran nama baik, dan perebutan harta benda membuat Majapahit kehilangan identitasnya sebagai pusat pemerintahan yang kuat dan bermartabat.
Sebagai kesimpulan, sejumlah faktor menyebabkan melemahnya kekuasaan Majapahit:
- Perang saudara (Paregreg) yang menghancurkan kesatuan.
- Kepemimpinan yang lemah pasca kematian Hayam Wuruk.
- Kemunduran ekonomi akibat kerusakan perdagangan dan pelabuhan.
- Berkembangnya kerajaan Islam yang menarik simpatik masyarakat pesisir.
- Intrik politik serta korupsi di kalangan pejabat kerajaan.
Pada akhirnya, Majapahit tidak runtuh akibat serangan dari luar, tetapi karena kerentanan yang muncul dari dalam. Sebagaimana pohon besar yang terlihat kuat, kerajaan ini perlahan-lahan mengalami kerusakan akibat perbuatannya sendiri.
Kejayaan yang dibangun selama puluhan tahun sirna hanya dalam beberapa dekade akibat pergolakan kekuasaan dan hilangnya semangat persatuan.
Cerita ini menjadi pengingat bahwa sebuah kerajaan, betapapun besarnya, dapat runtuh apabila kehilangan arah dan moralitas para pemimpinnya. (Okta/FADYA)
Editor : Martda Vadetya