Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Pathol, Seni Bertarung Warisan Majapahit di Pantai Utara Jawa

Imron Arlado • Rabu, 29 Oktober 2025 | 01:24 WIB

Pathol, ketika Majapahit bertarung di pantai utara Jawa
Pathol, ketika Majapahit bertarung di pantai utara Jawa

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Saat kita mendengar nama Majapahit, pikiran kita seringkali tertuju pada istana Trowulan, sosok Gajah Mada, atau peta yang menggambarkan Kesatuan lautan Nusantara.

Namun di balik kisah kebesaran itu, ada satu warisan yang jarang disorot yaitu tradisi olahraga rakyat yang sudah hidup sejak masa kerajaan yang disebut Pathol, sejenis gulat pantai khas pesisir utara Jawa.

Pathol bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga sebagai ajang untuk memilih pemuda yang ingin bergabung ke dalam pasukan kerajaan. Dalam ritual pembukaan, para pemain biasanya diiringi gamelan dengan tabuhan kendang dan gong. 

Irama musik tersebut membangkitkan semangat, memicu sorakan dari penonton, dan menciptakan suasana yang penuh magis di antara pasir pantai. Meskipun sederhana, pertandingan ini sarat filosofi. 

Ia merefleksikan nilai-nilai kepahlawanan, seperti keberanian, kehormatan, serta sportivitas, yang menjadi jiwa kehidupan Majapahit. Dalam setiap pertarungan, tidak ada dendam atau kebencian, yang ada hanyalah semangat juang dan penghormatan kepada kekuatan lawan. 

 

Baca Juga: Beginilah Alas Kaki Zaman Majapahit, Lambang Kesederhanaan di Tengah Kejayaan

 

Oleh karena itu, Pathol sering diselenggarakan bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk memperkuat tali persaudaraan antar masyarakat pesisir. Pathol biasanya dimainkan dalam rangkaian upacara adat atau perayaan panen laut. 

Warga percaya bahwa pertarungan ini memberi berkah, sekaligus mengusir bahaya dari laut. Setelah selesai bertanding, para pemain akan bersalaman, bahkan saling membantu berdiri.

Seringkali, penonton turut memberikan semangat dan tawa, menunjukkan bahwa Pathol lebih dari sekedar kompetisi, tapi juga ruang sosial. Iringan gamelan yang menggema dari tepi pantai membuat suasana semakin sakral.

Setiap suara saron dan kendang seolah mengaitkan masa kini dengan masa lalu, suara ombak yang bersahutan dengan melodi gamelan menciptakan keseimbangan antara alam, manusia, dan budaya.

Kini, di beberapa wilayah pesisir seperti Rembang, Tuban, dan Lamongan, tradisi Pathol masih dilestarikan. Pemerintah daerah dan komunitas kebudayaan secara rutin mengadakan ''Festival Pathol'' sebagai tanda penghormatan terhadap warisan Majapahit.

Dalam beberapa acara, Pathol bahkan dikemas sebagai atraksi wisata budaya yang memadukan unsur ritual, olahraga, dan seni pertunjukan.Namun, mempertahankan tradisi ini bukanlah hal yang mudah. 

Banyak generasi muda yang mulai melupakan akar tradisinya. Kompetisi modern dan gaya hidup perkotaan menyebabkan olahraga rakyat seperti Pathol semakin jarang dilakukan.

Untuk itu, sejumlah komunitas pesisir berupaya mengajarkan kembali nilai-nilai Pathol kepada anak-anak, agar mereka tidak hanya mewarisi tekniknya, tetapi juga semangat dan filosofi di baliknya.

Dalam setiap jejak kaki di pasir, setiap hembusan napas sebelum menjatuhkan lawan, terdapat nilai keberanian dan kejujuran yang diturunkan oleh nenek moyang.

 

Baca Juga: Berikut Sederet Makna Tersembunyi di Balik Tradisi dan Budaya Ruwatan

 

Ketika gulat pantai ini dimainkan, seolah kita melihat bayangan masa lalu yang hidup kembali, semangat para prajurit Majapahit yang berlatih di tepi laut, diiringi gamelan dan gemuruh ombak.

Di pantai-pantai utara Jawa, di antara ombak yang terus menerjang karang, Pathol masih dilaksanakan. Di sanalah, suara masa lalu Majapahit terus bergema, bukan lewat pedang atau kerajaan, melainkan lewat keringat, tawa, dan pasir yang abadi. (Tri Yulia Setyoningrum/FADYA)

Editor : Martda Vadetya
#budaya jawa #olahraga tradisional #Pathol #majapahit #warisan nusantara