JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Ketika kita mendengar nama Majapahit, yang terlintas dalam pikiran adalah sebuah kerajaan yang megah, istana yang megah di Trowulan, atau legenda tentang Gajah Mada yang bersumpah untuk menyatukan seluruh Nusantara.
Namun di balik kemegahan politik dan arsitektur bata merahnya, Majapahit menyimpan warisan spiritual yang halus, mendalam, dan sering kali terlupakan, yaitu tradisi penghormatan kepada leluhur.
Dalam karya Negarakertagama oleh Mpu Prapanca, terdapat kisah tentang Raja Hayam Wuruk yang mengadakan sebuah upacara besar untuk mengenang roh neneknya, Sri Rajapatni.
Upacara itu berlangsung selama berhari-hari, melibatkan sesaji, doa, musik gamelan, dan pertunjukan seni.
Tujuan dari kegiatan ini tidak hanya untuk mengenang, tetapi juga untuk ''menghubungkan'' dunia manusia dengan dunia leluhur sehingga harmoni kosmis tetap terjaga.
Menariknya, warisan itu tidak berhenti di masa lampau. Di Trowulan, Jatipasar, dan Bejijong, masyarakat masih menjalankan ritual serupa.
Setiap tahun, mereka menggelar Ruwat Agung Nuswantara Majapahit, sebuah tradisi yang dimulai pada 1959 dan terus berkembang hingga sekarang.
Prosesnya diawali dengan membersihkan petirtaan dan candi, dilanjutkan dengan doa bersama, tabur bunga, dan penyerahan sesaji hasil bumi. Di Candi Brahu, misalnya, masyarakat sekitar masih rutin menyalakan dupa dan meletakkan bunga di altar batu.
Sementara itu, di Petirtaan Jolotundo, air suci dari era Majapahit dianggap membawa berkah. Di situlah, nilai spiritual Majapahit berdenyut di tengah modernitas, tidak bising, tetapi abadi.
Ritual leluhur di Majapahit memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar praktik keagamaan. Ia menjadi alat perekat sosial. Melalui persiapan sesaji, gotong royong warga, dan doa bersama, tercipta rasa kebersamaan dan kesetaraan.
Tidak ada perbedaan kasta, semua orang memiliki peran penting. Selain itu, ritual juga memperkuat legitimasi kekuasaan pada masa lalu.
Bagi raja dan bangsawan Majapahit, upacara yang megah seperti Sraddha adalah cara untuk menunjukkan bahwa kekuasaan mereka tidak hanya berasal dari dunia fisik, tetapi juga dari restu para leluhur.
Kekuasaan tanpa spiritualitas dianggap hampa, sebab yang memelihara dunia bukan hanya manusia, tetapi juga kekuatan gaib yang diwariskan turun-temurun.
Saat ini, di tengah arus globalisasi yang ramai, tradisi seperti Sraddha atau Ruwatan sering dianggap kuno. Namun bagi masyarakat Mojokerto dan daerah lain yang masih melestarikannya, ritual ini justru menjadi pengingat identitas.
Ini lebih dari sekadar ritual, ia merupakan bentuk perlawanan terhadap modernitas yang kering makna. Warisan spiritual Majapahit tidak berhenti di reruntuhan bata merah atau naskah kuno.
Ia hidup dalam setiap sesaji yang diletakkan dengan penuh ketulusan, setiap doa yang dipanjatkan di bawah cahaya pelita, dan setiap langkah masyarakat yang menyusuri tanah Trowulan dengan penuh rasa hormat. (Tri Yulia Setyoningrum/FADYA)
Editor : Martda Vadetya