JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Ketika Majapahit disebutkan, pikiran kita sering melayang ke istana Trowulan yang megah, Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya, atau peta Nusantara yang luas dibawah satu panji kerajaan.
Namun, ada satu warisan yang tak tertulis di prasasti, tak tersisa dalam arca, tetapi masih hidup di tengah masyarakat yaitu tradisi Grebeg Suro.
Grebeg Suro berasal dari perayaan tahun baru dalam kalender Jawa-Saka, yang dulunya erat kaitannya dengan sistem penanggalan Hindu-Buddha masa Majapahit.
Pada masa itu, upacara dilakukan sebagai bentuk ruwatan, yakni penyucian diri dan wilayah dari pengaruh buruk menjelang tahun baru. Saat ini, di Trowulan dan Mojokerto, Grebeg Suro diadakan setiap tahun melibatkan ribuan warga.
Baca Juga: BPK Wilayah XI Gelar Ekskavasi Tahap VI Situs Kumitir, Arkeolog Temukan Anomali Fondasi Talud
Mereka berpakaian ala prajurit Majapahit, membawa hasil bumi, dan berarak menuju candi atau alun-alun untuk melakukan ritual simbolik.
Acara Grebeg Suro dimulai dengan kirab budaya, sebuah pawai panjang yang menunjukkan gunungan hasil bumi, kesenian rakyat, serta sosok yang mewakili tokoh-tokoh Majapahit seperti Gajah Mada dan Tribhuwana Tunggadewi.
Gunungan ini melambangkan kemakmuran, keseimbangan, dan rasa syukur kepada alam. Setelah kirab, program diteruskan dengan ruwatan agung, yang merupakan upacara penyucian diri dan tanah Majapahit.
Air suci dari sumber bersejarah seperti Sendang Drajat atau Kolam Segaran digunakan untuk memerciki peserta, sebagai simbol pembersihan lahir dan batin.
Bagi masyarakat di Jawa Timur, Grebeg Suro lebih dari sekadar warisan budaya, ia menjadi jembatan spiritual menghubungkan masa sekarang dengan masa Majapahit.
Tradisi ini mengajarkan pentingnya keseimbangan antara dunia fisik dan spiritual, antara ambisi manusia dan restu alam. Saat ini, Grebeg Suro juga diadakan sebagai festival budaya dan pariwisata.
Pemerintah Kota Mojokerto rutin menggelarnya dalam bentuk Pekan Budaya Majapahit, menampilkan kirab, pameran kuliner, hingga lomba busana tradisional.
Peneliti budaya dari Universitas Muhammadiyah Malang (2018) menjelaskan bahwa Grebeg Suro merupakan contoh “kontinuitas budaya Majapahit dalam ekspresi masyarakat Jawa modern”.
Ia membuktikan bahwa warisan sejati bukan hanya benda, melainkan nilai dan ritual yang terus dijalankan. Di bawah langit Mojokerto setiap bulan Suro, ketika asap dupa mengepul dan suara doa terdengar, sejarah seakan menyelesaikan siklusnya.
Majapahit mungkin telah runtuh, tetapi jiwanya melalui Grebeg Suro tetap hidup di antara generasi yang tak pernah lupa asal-usulnya. (Tri Yulia Setyoningrum)
Editor : Martda Vadetya