JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Runtuhnya kerajaan yang pernah menjadi kekuatan terbesar di Asia Tenggara ini menjadi suatu “titik balik” bagi sejarah Nusantara. Setelah Majapahit runtuh pada abad ke-15, Nusantara mengalami perubahan besar dalam bidang politik, sosial, dan agama.
Runtuhnya kerajaan besar itu memicu proses perubahan budaya dan spiritual yang dalam. Salah satu perubahan yang paling signifikan adalah berkembangnya agama Islam secara pesat di berbagai wilayah Nusantara.
Setelah Majapahit yang dikenal sebagai kerajaan besar beragama Hindu-Buddha runtuh, wilayah-wilayah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaannya mulai mengalami kekosongan kekuasaan pusati.
Hal ini membuat munculnya kerajaan-kerajaan kecil dan kesultanan yang mengambil peran sebagai penguasa lokal. Proses memecahnya kekuasaan pusat menyebabkan perubahan politik dan sosial yang dinamis, serta memengaruhi penyebaran agama Islam.
Agama Islam sudah masuk ke Nusantara sejak lama, tetapi setelah Majapahit runtuh, penyebarannya semakin intensif dan diterima luas.
Pada abad ke-15 dan ke-16, Islam berkembang hingga ke berbagai daerah, termasuk daerah pesisir dan pedalaman. Perkembangan Islam tidak hanya membawa perubahan agama, tetapi juga gaya hidup masyarakat, seperti dalam hukum, pendidikan, dan adat istiadat.
Namun, periode pasca-Majapahit juga sering disebut sebagai babak gelap oleh sebagian sejarawan karena adanya ketidakstabilan politik yang berlangsung berabad-abad.
Hilangnya kekuasaan pusat menyebabkan struktur sosial dan politik melemah, sehingga wilayah Nusantara sulit menghadapi ancaman dari luar, termasuk bangsa kolonial Eropa yang mulai mengincar wilayah ini.
Misalnya di Malang, setelah Majapahit runtuh, daerah ini mulai dikuasai oleh kerajaan-kerajaan Islam yang bermunculan, seperti Kesultanan Demak.
Kesultanan ini menjadi pusat kekuasaan Islam di Jawa dan memperluas pengaruhnya dengan menyebarkan agama Islam. Perubahan ini mengubah cara hidup masyarakat, yang mulai meninggalkan gaya hidup Hindu-Buddha dan beralih ke tradisi Islam.
Masuknya Islam juga mendorong terbentuknya jaringan perdagangan baru yang melibatkan para pedagang Muslim dari berbagai negara, seperti India, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.
Hal ini membuat Nusantara semakin kuat sebagai pusat perdagangan dan memperkaya budaya dengan kontak antar budaya.
Meski runtuhnya Majapahit menandai akhir dari satu era, ia juga menjadi awal dari era baru yang ditandai oleh penyebaran Islam dan munculnya kesultanan yang menjadi pusat budaya dan politik di Nusantara.
Perubahan ini juga menandai pergeseran masyarakat Nusantara dari tradisi Hindu-Buddha menuju budaya dan agama Islam yang dominan.
Proses ini memengaruhi banyak aspek kehidupan masyarakat, termasuk perubahan sistem pemerintahan, penerapan hukum Islam, dan struktur sosial.
Tatanan baru ini terus berkembang hingga masa kolonialis, yang menghadirkan tantangan baru bagi kelangsungan peradaban Nusantara.
Dengan demikian, perjalanan sejarah setelah kehancuran Majapahit merupakan periode penting yang membentuk identitas modern Nusantara dengan mayoritas agama Islam dan keanekaragaman budaya yang kaya, sebagai hasil dari proses adaptasi dan transformasi yang panjang sejak abad ke-15 hingga saat ini. (RIZMA)
Editor : Martda Vadetya