Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ketika Penguasa Kehilangan Martabat, Cerita tentang Keberangkatan Prabu Jayanegara

Imron Arlado • Rabu, 29 Oktober 2025 | 01:45 WIB
Kisah Prabu Jayanegara, penguasa muda Majapahit yang kehilangan nyawanya di tangan pelayannya sendiri akibat kehidupan yang dipenuhi dengan tipu daya dan godaan.
Kisah Prabu Jayanegara, penguasa muda Majapahit yang kehilangan nyawanya di tangan pelayannya sendiri akibat kehidupan yang dipenuhi dengan tipu daya dan godaan.

Jawa Pos Radar Majapahit - Dalam sejarah yang panjang dari Majapahit, peristiwa kematian Prabu Jayanegara merupakan salah satu momen paling kelam. Ia bukan hanya seorang pangeran muda yang menerima warisan tahta, tetapi juga lambang dari betapa rapuhnya kekuasaan yang disertai dengan kelemahan pribadi.

Prabu Jayanegara adalah anak dari Raden Wijaya, yang merintis Kerajaan Majapahit. Sejak masa mudanya, ia mewarisi tahta megah yang dikelilingi oleh kemewahan dan berbagai tantangan.

Namun, dibalik kemegahan istana, gaya hidupnya sering menuai pembicaraan negatif. Ia terkenal dekat dengan kesenangan duniawi dan terlibat dalam urusan wanita, yang membuat para bangsawan dan pelayan di istana merasa gelisah.

Selama masa pemerintahannya, kekuatan Majapahit belum sebanding dengan zaman Hayam Wuruk. Banyak pejabat dalam kerajaan merasakan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Jayanegara, yang dianggap lemah dan terlalu bergantung pada nasihat dari orang-orang terdekatnya.

 Baca Juga: Warisi Keahlian Perajin Era Majapahit, Terapkan Teknik Cetak Lilin Khusus untuk Benda Rumit dan Nonsimetris

Situasi ini mendorong terjadinya beberapa pemberontakan di dalam istana. Nama-nama seperti Kuti, Semi, Pangsa, dan Tanca muncul sebagai sosok yang pernah mengguncang stabilitas kerajaan.

Namun, ancaman terbesar justru mengemuka dari kalangan dalam istana, mereka yang seharusnya melindunginya. Salah satu di antaranya adalah dokter istana bernama Tanca. Diceritakan bahwa Tanca awalnya sangat dipercaya oleh raja. Ia sering merawat Jayanegara saat sakit. Namun, dibalik kesetiaannya, terkandung benih dendam dan kekecewaan.

Suatu hari, ketika Prabu Jayanegara tengah sakit, Tanca dipanggil untuk mengobati bisul yang diderita raja. Momen ini menjadi peristiwa yang tidak akan terlupakan dalam lembaran sejarah.

Saat memberikan perawatan, Tanca malah menikam tubuh Jayanegara hingga raja tewas seketika di istana. Tragedi tersebut mengguncang seluruh kerajaan. Pelayan yang paling dipercaya ternyata adalah pembunuhnya.

Terdapat berbagai versi mengenai motif di balik pembunuhan ini. Sebagian beranggapan bahwa tindakan sang raja yang banyak menyinggung hati orang-orang disekitarnya menjadi penyebabnya.

Ada yang berpendapat bahwa Tanca hanya dijadikan alat oleh pihak lain yang ingin menggulingkan Jayanegara. Terlepas dari alasan tersebut, kematian ini melambangkan runtuhnya kepercayaan antara raja dan rakyatnya.

 Baca Juga: Dilestarikan Perajin Patung Trowulan Mojokerto Hingga Saat Ini, Begini Teknologi Pengolahan Logam Era Majapahit

Setelah kematiannya, jenazah Jayanegara dimakamkan di dua lokasi Badander dan Trowulan. Ini mengikuti tradisi pemakaman raja Majapahit yang menggabungkan elemen Hindu dan Budha.

Meskipun hidupnya dikelilingi kontroversi, kisah tragisnya tetap menjadi bagian esensial dalam sejarah Majapahit.

Dari kisah Jayanegara, kita bisa menyimpulkan bahwa kekuasaan tanpa kepercayaan tidak akan bertahan lama. Seorang pemimpin mungkin memiliki pasukan, kekayaan, dan kekuasaan, tetapi jika ia kehilangan kehormatan dan kejujuran, semua itu dapat hancur dengan cepat.

Tragedi di istana Majapahit menunjukkan bahwa pengkhianatan sering muncul bukan dari musuh, tetapi dari orang-orang yang paling dekat.

Sejarah mungkin menggambarkan Jayanegara sebagai raja yang lemah dan mudah terombang-ambing, namun di sisi lain, kisahnya juga menjadi pengingat tentang sisi kemanusiaan seorang pemimpin.

Ia bukanlah dewa, melainkan manusia yang terjerat dalam rayuan kekuasaan dan keindahan. Dan seperti banyak kisah besar lainnya, akhir hidupnya menjadi pelajaran bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan hanya akan membawa kepada kehancuran. (Okta)

Editor : Martda Vadetya
#Raden Wijaya #muda #prabu #pangeran #anak #Jayanegara