Jawa Pos Radar Majapahit - Sore itu, langit Majapahit tampak kelam. Di dalam istana, wangi dupa berpadu dengan perasaan cemas. Raja Jayanegara, penguasa kedua Majapahit, terbaring lemah di kamar tidurnya. Penyebabnya bukan perang, serta bukan karena kutukan dari musuh. Hanya bisul di tubuhnya yang menimbulkan rasa sakit yang parah.
Namun, tak ada yang menduga, dari luka kecil ini, perubahan besar bagi sejarah Majapahit akan terjadi untuk selamanya.Jayanegara dikenal sebagai raja muda yang mewarisi tahta ayahnya, Raden Wijaya, pada tahun 1309 M.
Meskipun usianya masih muda, tanggung jawab yang harus dipikulnya begitu berat. Ia berusaha mempertahankan kejayaan Majapahit, tetapi tidak semua menteri dan rakyat mendukungnya. Di balik tembok bata merah istana, atmosfer intrik politik terus terasa.
Baca Juga: Surya Majapahit: Simbol Matahari yang Menyimpan Makna Keseimbangan dan Kekuatan Spiritual
Dalam catatan Pararaton, Jayanegara mendapatkan julukan “Kalagemet”, yang berarti raja yang lemah atau jahat. Banyak yang beranggapan bahwa pemerintahannya tidak sekuat pendahulunya. Pemberontakan demi pemberontakan terjadi, mulai dari Ra Kuti hingga pengkhianatan yang muncul di dalam istana itu sendiri.
Di tengah kondisi yang tegang, Jayanegara jatuh sakit. Sebuah bisul muncul di tubuhnya, yang mungkin terlihat sepele bagi rakyat biasa, namun bisa berakibat fatal bagi seorang raja. Tabib istana bernama Ra Tanca dipanggil untuk menyembuhkannya. Ia dikenal sebagai seorang ahli dan mendapat kepercayaan dari keluarga kerajaan.
Ra Tanca tiba dengan ramuan serta doa, tetapi juga penuh dengan dendam. Suaminya telah dihukum mati atas perintah raja, dan ini menanamkan rasa benci yang mendalam padanya. Saat ada kesempatan, Ra Tanca sadar bahwa inilah saatnya untuk membalas dendam.
Baca Juga: Beginilah Alas Kaki Zaman Majapahit, Lambang Kesederhanaan di Tengah Kejayaan
Dalam cerita yang diwariskan, Ra Tanca meminta kepada raja untuk melepas jimat pelindungnya agar pengobatan bisa dilakukan. Jayanegara mengabulkan permintaannya. Ketika seluruh pengawal keluar dari kamar, tabib itu mengeluarkan pisau kecil yang biasa dipakai untuk mengiris luka dan menikam dada rajanya sendiri.
Terdengar jeritan tertahan, sebelum akhirnya semua hening. Raja Majapahit meninggal bukan di medan perang,melainkan di atas tempat tidur untuk penyembuhan.
Namun cerita tidak berakhir di sini. Beberapa versi sejarah menyebutkan, Gajah Mada,seorang pejabat muda yang saat itu sedang bersinar,segera menangkap dan mengeksekusi Ra Tanca tanpa proses pengadilan.
Sebagian menganggap tindakan ini sebagai loyalitas, namun ada yang melihatnya sebagai langkah politik untuk menghilangkan saksi hidup dari rencana besar.
Setelah kematian Jayanegara, Majapahit kehilangan pewaris laki-laki. Tahta lalu berpindah ke tangan Tribhuwana Wijayatunggadewi, saudara tirinya yang nantinya akan membuka jalan bagi kejayaan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.
Dengan ironis, dari bisul kecil itu, sejarah Majapahit mulai berbalik. Dari penderitaan seorang raja, lahir era kejayaan baru bagi kerajaan terbesar di Nusantara.
Kini, cerita Jayanegara menjadi pelajaran tentang fragilitas kekuasaan. Seorang raja mungkin kebal terhadap senjata, tetapi tidak dari pengkhianatan. Dan terkadang, luka yang paling kecil bisa menjadi pemicu dari tragedi terbesar. (Okta)
Editor : Martda Vadetya