Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Beginilah Alas Kaki Zaman Majapahit, Lambang Kesederhanaan di Tengah Kejayaan

Imron Arlado • Minggu, 26 Oktober 2025 | 02:30 WIB
Pada era Majapahit, alas kaki lebih dari sekadar pelindung untuk kaki,  juga mencerminkan budaya, kedudukan sosial, dan keindahan peradaban pada waktu itu.
Pada era Majapahit, alas kaki lebih dari sekadar pelindung untuk kaki, juga mencerminkan budaya, kedudukan sosial, dan keindahan peradaban pada waktu itu.

Jawa Pos Radar Majapahit - Pada puncak kejayaan Kerajaan Majapahit (1293–1527 M), masyarakat di wilayah Nusantara telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam berbagai aspek kebijakan, perdagangan, dan seni.

Namun, di balik cerita megah mengenai kerajaan dan peperangan, terdapat aspek-aspek sederhana yang jarang disorot, bagaimana masyarakat Majapahit berpakaian, berpenampilan, dan berjalan di tanah mereka sendiri. Salah satu aspeknya adalah mengenai alas kaki.

Pada masa Majapahit, alas kaki bukanlah barang yang dimiliki oleh semua orang. Berdasarkan informasi dari penelitian Pusat Informasi Majapahit (PIM), sebagian besar individu pada masa itu berjalan tanpa alas kaki dalam aktivitas sehari-hari.

Ini bukan disebabkan oleh kemunduran, tetapi mencerminkan gaya hidup agraris dan kesederhanaan masyarakat Jawa kuno yang sudah terbiasa berinteraksi langsung dengan tanah, yang merupakan simbol dari kesuburan dan kehidupan.

Namun, temuan arkeologis yang ada pada relief candi dan patung menunjukkan bahwa alas kaki telah diketahui dan digunakan oleh kelompok tertentu. Tokoh-tokoh penting seperti aristokrat, pejabat kerajaan, atau figur keagamaan, sering kali digambarkan mengenakan alas kaki.

Desainnya sederhana, mirip sandal dengan tali pengikat di bagian punggung kaki. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa alas kaki telah menjadi bagian dari busana di Majapahit, meskipun lebih berfungsi sebagai lambang status daripada kebutuhan praktis.

Material utama yang digunakan untuk membuat alas kaki pada masa itu adalah kayu dan kulit hewan. Kulit hewan dipilih karena memiliki sifat fleksibel dan nyaman, sedangkan kayu digunakan karena kekuatannya dan mudah ditemukan di sekitar kerajaan.

Dalam beberapa penemuan, gambar-gambar pada relief menunjukkan bentuk alas kaki dengan hiasan sederhana, kemungkinan berupa ukiran atau motif yang dibuat secara manual oleh para pengrajin di istana.

Pemakaian alas kaki juga memiliki arti simbolis. Dalam kepercayaan dan nilai-nilai yang ada di Majapahit yang terpengaruh oleh Hindu-Buddha, berjalan tanpa alas kaki menandakan sikap rendah hati di hadapan para dewa.

Oleh karena itu, dalam patung-patung perwujudan dewa atau tokoh suci sering kali mereka digambarkan tanpa alas kaki. Sebaliknya, manusia biasa yang mengenakan alas kaki mencerminkan identitas sosial tertentu mungkin pejabat, kesatria, atau pelaku ritual kerajaan.

Menariknya, dalam konteks sosial Majapahit, alas kaki tidak hanya berfungsi untuk melindungi telapak kaki, tetapi juga menjadi tanda perbedaan kelas. Mereka yang bekerja di sawah, berdagang, atau berlayar biasanya tidak memakai alas kaki sama sekali.

Baca Juga: Jejak Genetik Majapahit hingga Ungkap Asal Usul Orang Nusantara, Inilah Analisis DNA di Situs Trowulan

Sementara itu, mereka yang berada di lingkungan istana atau terlibat dalam upacara keagamaan cenderung mengenakan alas kaki yang lebih terawat atau bahkan dibuat khusus sesuai dengan status mereka.

Selain dari aspek sosial dan religius, keberadaan alas kaki juga menunjukkan bahwa masyarakat Majapahit memiliki kemampuan teknis dan estetika yang tinggi. Pengolahan bahan kulit dan kayu mencerminkan keterampilan kerajinan yang berkembang pesat pada waktu itu.

Hal ini sejalan dengan penemuan lain seperti perhiasan logam, tekstil, dan keramik, yang kesemuanya mewakili kemajuan budaya material masyarakat Majapahit.

Meskipun tampak sederhana, alas kaki pada masa Majapahit memberikan wawasan yang jelas tentang kehidupan masyarakat pada waktu itu, praktis, fungsional, tetapi sarat makna. Ia mencerminkan nilai-nilai kesederhanaan yang berpadu dengan penghormatan terhadap alam dan struktur hierarki sosial yang kokoh.

Kini, setelah berabad-abad berlalu, objek kecil itu masih menyisakan jejak simbolis. Alas kaki yang terbuat dari kayu dan kulit bukan hanya perangkat untuk berjalan, melainkan menjadi saksi bisu yang mengajak kita kembali menelusuri masa kejayaan Majapahit, dimana langkah manusia dan budaya berjalan beriringan menuju peradaban besar Nusantara. (Okta/Linda)

Editor : Martda Vadetya
#Berpakaian #majapahit #alas kaki #Identitas Sosial #dewa #Masyarakat Jawa kuno