JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Di balik kilau istana, tembok bata merah, dan kisah-kisah politik yang memukau, Kerajaan Majapahit menyimpan aspek spiritual yang kurang dibahas, yaitu tradisi ruwatan.
Bagi masyarakat Jawa, ruwatan bukan sekadar upacara adat, melainkan ritual penyucian diri dan alam semesta.
Dari sini kita bisa mengerti bahwa kejayaan Majapahit tidak hanya dibangun di atas kekuatan militer dan ekonomi, namun juga keseimbangan antara umat manusia, alam, dan roh leluhur.
Ruwatan bukan hanya untuk individu, tetapi juga untuk seluruh masyarakat dan alam sekitar. Ini menjadi ekspresi doa kolektif agar kerajaan tetap dalam keadaan harmonis dan makmur.
Menurut penelitian dalam Jurnal Avatara Universitas Negeri Surabaya, tradisi ruwatan kala itu merupakan bagian dari sistem sosial-religius yang memperkuat posisi raja sebagai penjaga keseimbangan kosmos.
Upacara ruwatan Majapahit menyertakan elemen simbolis yang penuh makna. Pertama, prosesi pembersihan menggunakan air suci atau tirta amerta yang diambil dari sumber mata air keramat.
Baca Juga: Majapahit di Mata Generasi Digital: Antara Fakta dan Fantasi
Air diyakini sebagai media untuk menyucikan roh, menghapus segala keburukan dan membuka jalur menuju keseimbangan batin. Kedua, unsur kirab budaya dan simbol kerajaan.
Dalam konteks sekarang, ini terpancar dalam Festival Mojotirto di Mojokerto, di mana masyarakat mengenakan pakaian kerajaan Majapahit dan membawa kendi berisi air dari berbagai sumber untuk disatukan di sungai.
Simbol ini menggambarkan persatuan masyarakat dan kesinambungan antara manusia serta alam. Ketiga, keterlibatan warga dari berbagai kelas sosial. Ruwatan bukan milik bangsawan saja, rakyat biasa turut ambil bagian.
Ini menunjukkan bahwa dalam perspektif Majapahit, keselamatan spiritual bukanlah hak yang hanya dimiliki segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama. Ruwatan memiliki peran yang melampaui ritual keagamaan.
Ini berperan sebagai cara untuk melegitimasi kekuasaan, di mana raja menegaskan dirinya sebagai penghubung antara dunia fisik dan dunia roh. Melalui upacara besar, kerajaan menampilkan kemegahan spiritual yang memperkuat kewibawaan politiknya.
Selain itu, ruwatan juga erat kaitannya dengan pengelolaan lingkungan. Karena Majapahit adalah kerajaan agraris-maritim, keseimbangan alam sangat penting. Ritual pembersihan air dan sungai menjadi simbol upaya menjaga sumber kehidupan.
Dengan demikian, ruwatan tak hanya memelihara roh manusia, tetapi juga “menyucikan” bumi dan air yang menopang kehidupan rakyat. Meski kerajaan telah runtuh berabad-abad lalu, napas ruwatan masih terasa hingga kini.
Di wilayah Trowulan, Mojokerto, bekas pusat Kerajaan Majapahit, masyarakat masih melaksanakan Ruwat Agung Nuswantara. Tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1959 dan diikuti ribuan orang dari berbagai daerah.
Baca Juga: Tak Sekadar Penghormatan Pada Leluhur, Begini Jejak Spiritual Majapahit dalam Tradisi Nyadran
Upacara dimulai dengan pembacaan doa, siraman air suci, hingga pelepasan sesaji ke sungai Brantas. Ruwatan Majapahit menyampaikan pesan universal, manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa atasnya.
Ia mengajarkan keseimbangan antara dunia nyata dan dunia tak kasatmata, antara logika dan rasa, antara kekuasaan dan pengabdian.
Di era modern yang sering terputus dari akar spiritual dan ekologis, ruwatan menjadi pengingat bahwa kejayaan sejati bukan hanya tentang kekuasaan, melainkan tentang kemampuan menjaga harmoni, antara manusia, alam, dan semesta. (Tri Yulia Setyoningrum/FADYA)
Editor : Martda Vadetya