JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Di balik semua megahnya dan cerita politik yang melingkupi Kerajaan Majapahit, terdapat sebuah warisan yang terlihat sederhana namun memiliki makna dalam, yaitu seni terrakota.
Karya dari tanah liat yang dibakar ringan ini bukan sekadar benda mati peninggalan masa lalu, melainkan potret hidup dari masyarakat Majapahit yang berdenyut dengan kreativitas, ekonomi, dan spiritualitasnya.
Lewat potongan-potongan terrakota yang ditemukan di Trowulan (daerah yang diyakini sebagai pusat pemerintahan Majapahit), kita bisa mengungkap sisi manusia dari sebuah kerajaan besar yang sering kali hanya dikenal melalui konflik dan kekuasaan.
Seni terrakota Majapahit bukan sekadar artefak estetis, melainkan bagian dari denyut ekonomi kota.
Menurut studi dari Humaniora Journal Universitas Bina Nusantara, produksi tanah liat di Majapahit pesat berkembang berkat tersedianya bahan baku di daerah Trowulan serta tingginya permintaan untuk peralatan rumah tangga dan benda-benda ritual.
Baca Juga: Wayang Beber, Warisan Majapahit yang Mengajarkan Moral Lewat Warna dan Garis
Hasilnya, ribuan artefak terrakota kini tersimpan di Museum Majapahit, menjadi saksi bisu kehidupan masa lalu yang nyaris lengkap.
Penemuan terrakota dari Majapahit sangat bervariasi, mulai dari patung manusia, hewan, perabotan rumah tangga, hingga miniatur bangunan dan celengan.
Salah satu artefak paling terkenal adalah celengan babi hutan (boar-shaped piggy bank) yang kini menjadi ikon budaya tersendiri. Dari sini, diduga asal mula kata celengan dalam bahasa Jawa dan Indonesia yang bermakna ''tabungan''.
Bentuk babi hutan dipilih karena melambangkan kekuatan dan ketekunan, nilai yang sejalan dengan konsep menabung untuk masa depan.
Selain celengan, figur manusia dalam beragam pose dan ukuran juga ditemukan seperti wanita dalam posisi duduk bersila, anak-anak yang bermain, hingga pria dengan ekspresi santai.
Figur-figur ini bukan representasi dewa, melainkan penggambaran masyarakat biasa. Kita dapat menyimpulkan bahwa seni Majapahit tidak hanya melayani kebutuhan istana, namun juga mengekspresikan kehidupan sosial rakyatnya.
Bila candi mencerminkan spiritualitas raja dan bangsawan, maka terrakota memperlihatkan kehidupan rakyat biasa.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh tim arkeologi dari National Archaeology Indonesia, artefak-artefak terrakota mengungkap kisah-kisah kecil mengenai ekonomi rumah tangga, interaksi sosial, dan bahkan humor dalam masyarakat mereka.
Figur-figur dengan wajah tersenyum, postur santai, dan bentuk karikatural menunjukkan bahwa masyarakat Majapahit memiliki sisi ceria dan jenaka.
Sayangnya, di tengah perkembangan modern, banyak situs terrakota di Trowulan menghadapi risiko kerusakan atau pengabaian.
Baca Juga: Dari India Dibawa sampai ke Jawa, Begini Jejak Sejarah Jajanan Legendaris Arbanat
Penggalian tidak resmi dan kurangnya perhatian publik menyebabkan sebagian artefak hilang tanpa jejak.
Sementara itu, seperti yang dinyatakan oleh UNESCO, pelestarian warisan semacam ini sangat penting bukan hanya untuk sejarah, melainkan juga untuk identitas bangsa.
Seni terrakota Majapahit mengajarkan bahwa kebesaran sebuah peradaban tidak hanya diukur dari istana atau medan perang, tetapi juga dari tangan-tangan rakyat yang mencipta.
Sementara itu, seperti yang dinyatakan oleh UNESCO, pelestarian warisan semacam ini sangat penting bukan hanya untuk sejarah, melainkan juga untuk identitas bangsa. (Tri Yulia Setyoningrum/FADYA)
Editor : Martda Vadetya