Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Bukan Hanya Ratu, Tiga Wanita Ini yang Membentuk Majapahit Raih Masa Kejayaan

Imron Arlado • Minggu, 26 Oktober 2025 | 01:35 WIB
Tiga permaisuri yang hebat di Majapahit, Gayatri, Tribhuwana, dan Suhita, membuktikan bahwa wanita juga mampu menjadi pemimpin besar di Nusantara.
Tiga permaisuri yang hebat di Majapahit, Gayatri, Tribhuwana, dan Suhita, membuktikan bahwa wanita juga mampu menjadi pemimpin besar di Nusantara.

Jawa Pos Radar Majapahit - Saat orang mendengar tentang Kerajaan Majapahit, umumnya mereka langsung berpikir tentang tokoh raja seperti Raden Wijaya atau Hayam Wuruk.

Namun, dibalik kemakmuran kerajaan yang megah itu, terdapat tiga wanita kuat yang juga pernah menguasai tahta.

Mereka adalah Gayatri Rajapatni, Tribhuwana Wijayatunggadewi, dan Dyah Suhita, tiga ratu yang menunjukkan bahwa perempuan juga dapat menjadi pemimpin hebat di masa lampau.

  1. Gayatri Rajapatni Wanita Pintar di Balik Kekuasaan

Gayatri merupakan anak perempuan bungsu dari Raja Singasari, Kertanegara. Ia kemudian bersuami dengan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.

Meskipun tidak secara formal memegang kekuasaan, Gayatri diakui sebagai individu yang sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan di dalam istana.

Usai kepergian Raden Wijaya, Gayatri tidak mengambil alih kursi kepemimpinan, tetapi berfokus pada menjaga stabilitas kerajaan dengan menunjuk putrinya, Tribhuwana, sebagai pemimpin.

Perannya bagaikan seorang ''dalang bijak'' yang berada di balik layar, memastikan pemerintahan berjalan lancar tanpa gejolak politik.

Ia juga dikenal sebagai sosok yang memiliki wawasan luas, penyabar, dan berkarisma, ciri-ciri yang membuatnya dihormati oleh para bangsawan dan masyarakat.

 Baca Juga: Peran Vital Sungai Brantas Sebagai Jalur Perdagangan dan Pusat Pengembangan Kerajaan Majapahit

  1. Tribhuwana Wijayatunggadewi, Sang Ratu Pemberani

Tribhuwana merupakan anak dari Gayatri yang kemudian mengambil alih kekuasaan sebagai ratu Majapahit pada tahun 1328 Masehi. Ia dikenal sebagai sosok pemimpin yang tegas dan berani.

Di bawah pemerintahannya, Majapahit mengalami perkembangan pesat serta memperluas kekuasaannya hingga melampaui Pulau Jawa.

Selama masa kepemimpinannya, muncul figur penting bernama Gajah Mada, sang Mahapatih yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya.

Banyak catatan sejarah yang mengindikasikan bahwa keberhasilan ekspansi Majapahit tak terlepas dari kolaborasi antara Tribhuwana dan Gajah Mada.

Yang menarik, meskipun hidup di era yang didominasi oleh pria dalam politik, Tribhuwana mampu menunjukkan keterampilan kepemimpinan tanpa mengabaikan sisi lembutnya. Ia menjadi contoh bahwa kekuatan dan kebijaksanaan dapat berjalan beriringan.

  1. Dyah Suhita Ratu di Masa Sulit

Setelah bertahun-tahun berlalu, muncul figur perempuan yang menduduki posisi tertinggi dalam kekuasaan Majapahit, yaitu Dyah Suhita.

Ia memerintah dari sekitar 1429 hingga 1447 M. Suhita menghadapi situasi yang sulit, kerajaan mulai mengalami penurunan, dan banyak wilayah bawahan yang berusaha untuk memisahkan diri.

Namun, Suhita tetap dikenang sebagai ratu yang penuh kesabaran dan berkomitmen untuk mempertahankan sisa-sisa kejayaan Majapahit.

Ia juga digambarkan sebagai sosok yang mencintai seni serta kebudayaan, melestarikan warisan nenek moyang di tengah-tengah gejolak politik.

Meskipun masa pemerintahannya diwarnai oleh berbagai tantangan, ia tetap diingat sebagai simbol ketahanan perempuan dalam menghadapi pergolakan kekuasaan. (Okta/FADYA)

Editor : Martda Vadetya
#dyah suhita #Tribhuwana Tunggadewi #Raden Wijaya #hayam wuruk #Gayatri Rajapatni #perempuan #pemimpin hebat