Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Wayang Beber, Warisan Majapahit yang Mengajarkan Moral Lewat Warna dan Garis

Imron Arlado • Jumat, 24 Oktober 2025 | 00:00 WIB

Wayang Beber yang berbentuk gulungan kertas
Wayang Beber yang berbentuk gulungan kertas

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Di periode ketika Majapahit berada di puncak kejayaannya, seni dan budaya bukan hanya pelengkap bagi kekuasaan, melainkan merupakan bagian dari cara kerajaan tersebut berkomunikasi dengan masyarakatnya. 

Di antara beragam bentuk kesenian yang lahir dan berkembang kala itu, terdapat satu warisan yang unik yaitu Wayang BeberPertunjukan ini tidak hanya memadukan seni lukis, cerita, dan musik, tetapi juga menyimpan kisah-kisah spiritual serta nilai-nilai moral dari zaman dahulu. 

Menurut berbagai penelitian, tradisi Wayang Beber sudah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Jejaknya dapat ditemukan di tempat-tempat yang dulunya merupakan pusat kerajaan, seperti Mojokerto dan Pacitan. 

Dua daerah itu hingga kini masih menyimpan gulungan Wayang Beber kuno yang diyakini berasal dari era Majapahit. Di samping sebagai sarana hiburan, Wayang Beber pada waktu itu juga memiliki peranan sosial dan ritual. 

 

Baca Juga: Menelusuri Rute Perdagangan Laut dan Jejak Uang Kuno Majapahit

 

Sebelum pertunjukan dimulai, sering dilakukan upacara kecil untuk memohon restu leluhur. Tidak semua bagian dari gulungan boleh dibuka, bagian akhir biasanya disimpan sebagai rahasia dan hanya diperbolehkan dilihat oleh dalang atau penjaga warisan. 

Kepercayaan ini menandakan bahwa Wayang Beber bukan sekadar tontonan, tetapi juga tatanan, sebuah media suci yang menghubungkan manusia dengan dunia yang lebih tinggi.

Cerita yang diangkat dalam Wayang Beber biasanya berasal dari kisah kepahlawanan dan ajaran moral. Salah satu yang terkenal adalah lakon Panji Asmarabangun, tokoh pahlawan dari masa Majapahit yang menempuh perjalanan penuh cobaan demi menegakkan keadilan dan cinta kasih. 

Dalam versi lain, beberapa gulungan bahkan mengisahkan legenda lokal yang berakar dari sejarah Majapahit itu sendiri, seperti kisah para raja, peperangan, dan kebijaksanaan para pujangga.

 

Baca Juga: Keagungan Sastra dan Bahasa di Masa Kerajaan Majapahit

 

Melalui kisah-kisah itu, rakyat Majapahit belajar tentang nilai-nilai seperti kesetiaan, keberanian, kesabaran, dan keseimbangan hidup. Dalang menjadi guru moral, bukan sekadar pencerita.

Ia menuturkan pesan-pesan leluhur lewat warna, garis, dan suara, cara yang efektif di masa ketika huruf belum banyak dikenal masyarakat luas. Sayangnya, di tengah arus budaya populer dan hiburan digital, minat generasi muda terhadap Wayang Beber semakin berkurang. 

Banyak yang menganggapnya kuno dan sulit diakses. Padahal, di balik kesederhanaannya, Wayang Beber menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang sangat dalam. 

Ia adalah saksi bagaimana Majapahit mengekspresikan identitasnya melalui seni yang sarat simbol dan makna. Majapahit mungkin telah runtuh secara politik, tetapi dalam Wayang Beber, rohnya masih hidup.

 

Baca Juga: Miliki Kerja Sama Regional dengan Kerajaan Luar Jawa, Begini Dinamika Kekuasaan Majapahit

 

Gulungan-gulungan itu menjadi lembar cerita yang tak pernah benar-benar selesai dibuka, sama seperti sejarah yang terus bergulir di tangan para penerusnya.

Wayang Beber bukan sekadar lukisan yang bisa digulung, ia adalah sejarah yang bisa diceritakan ulang, diwariskan, dan dihidupkan kembali. (Tri Yulia Setyoningrum)

Editor : Martda Vadetya
#cerita panji #budaya majapahit #wayang beber #warisan nusantara #seni tradisional