JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Saling menghormati dan menghargai antar sesama individu merupakan nilai yang telah diwariskan oleh leluhur kita jauh sebelum nama ‘Indonesia’ muncul.
Hal ini dapat dilihat dari kerajaan-kerajaan besar yang pernah ada dan tumbuh maju di kawasan Nusantara, contohnya Majapahit yang ada pada kira-kira abad ke-13 M.
Toleransi agama sangat penting dalam kehidupan masyarakat Majapahit yang beragam budayanya. Kerajaan Majapahit bukan hanya pusat kekuasaan dan ekonomi, tetapi juga tempat berbagai kepercayaan hidup damai berdampingan.
Keanekaragaman agama di Majapahit, termasuk Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal, diberikan kesempatan yang setara, mencerminkan tingkat toleransi yang tinggi dalam kehidupan sosial dan pemerintahan.
Kerajaan Majapahit menjunjung tinggi prinsip toleransi dengan mengakomodasi berbagai agama dalam sistem pemerintahan serta praktik keagamaan.
Bukti arkeologis dan literatur sejarah memperlihatkan candi-candi yang didedikasikan untuk berbagai dewa Hindu dan Buddha, yang menunjukkan bahwa pemerintah tidak memaksakan satu agama tertentu kepada rakyatnya, melainkan memberikan kebebasan dalam menjalankan ibadah sesuai pilihan masing-masing.
Ini diperkuat oleh sikap saling menghormati antara pemeluk agama yang berbeda sehingga konflik keagamaan dapat dihindari.
Hal ini menunjukkan bahwa di era tersebut, pluralitas agama tidak dilihat sebagai sesuatu yang berbahaya, tetapi sebagai bagian dari kekayaan budaya yang harus dihargai dan dipelihara.
Praktik toleransi pada masa Majapahit juga terlihat dalam interaksi sosial yang bersifat inklusif. Komunitas dengan latar belakang suku, budaya, dan agama yang beragam hidup bersama dalam keadaan harmonis.
Para pemimpin kerajaan seperti Raja Hayam Wuruk dikenal mampu memelihara persatuan dan keragaman di dalam kerajaannya, yang menghasilkan stabilitas politik berkat penghargaan terhadap nilai-nilai pluralisme.
Pengalaman toleransi beragama pada masa Majapahit memberikan pelajaran berharga bagi kehidupan saat ini, khususnya di Indonesia yang juga merupakan negara dengan banyak variasi agama dan budaya.
Kisah toleransi di zaman Majapahit mengingatkan kita tentang pentingnya menghormati perbedaan dan menjaga kerukunan antar umat beragama demi mempertahankan persatuan bangsa.
Relevansi sejarah ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat modern untuk memperkuat nilai kebersamaan dan menghargai pluralitas dalam kehidupan bernegara.
Dengan mempelajari keberhasilan Majapahit dalam mengaplikasikan toleransi agama, generasi sekarang dapat mengambil pelajaran penting tentang bagaimana perbedaan dapat menjadi sumber kekuatan, bukan konflik.
Toleransi yang muncul dari sikap saling menghormati dan pengakuan hak setiap individu untuk beribadah sesuai keyakinan mereka adalah fondasi penting dalam menjaga kedamaian sosial serta keberlanjutan suatu peradaban.
Oleh karena itu, toleransi di era Majapahit bukan sekadar konsep historis, tetapi juga menjadi model kehidupan yang dapat diadopsi untuk memperkuat harmoni sosial dalam konteks Indonesia modern, sekaligus melindungi kekayaan budaya bangsa yang beragam. (RIZMA)
Editor : Martda Vadetya