JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Saat orang membayangkan Kerajaan Majapahit, banyak yang langsung teringat akan kemewahan istana Trowulan, angkatan laut yang tangguh, atau sosok Gajah Mada dengan Janji Palapanya.
Namun, di balik kisah tentang peperangan dan politik Nusantara, tersimpan warisan yang jauh lebih lembut, yaitu seni tekstil. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Studyanto (2018) dalam Design Development of The Batik Majapahit (Atlantis Press), banyak relief di situs-situs peninggalan Majapahit menampilkan pola geometris menyerupai kawung.
Baca Juga: Jejak Wewangian Majapahit yang Terlupa
Motif tersebut muncul pada ukiran, arca, dan bahkan sisa-sisa ornamen perhiasan batu bata di kawasan Trowulan. Motif kawung digambarkan sebagai empat buah bulatan menyerupai buah aren atau kolang-kaling yang disusun simetris membentuk pola silang.
Dalam pandangan spiritual Hindu-Buddha, bentuk ini melambangkan keseimbangan antara unsur alam dan manusia, serta simbol kesempurnaan hidup. Tidak heran jika kain bermotif kawung di masa Majapahit dipercaya hanya digunakan oleh kalangan bangsawan atau keluarga kerajaan, menjadi simbol kesucian, kemuliaan, dan keharmonisan.
Baca Juga: Gerabah Majapahit, Jejak Sederhana dari Keagungan yang Abadi
Beberapa relief di Candi Tikus dan Candi Brahu juga menunjukkan tokoh berpakaian kain dengan motif serupa. Selain menjadi pakaian upacara dan tanda kebangsawanan, kain dengan motif seperti kawung juga dipakai dalam ritual penyucian dan persembahan.
Artinya, fungsi kain melampaui dunia material, ia adalah media doa dan penghormatan terhadap keseimbangan semesta. Menurut Asian Art Newspaper (2025), perkembangan tekstil Indonesia modern banyak mengadaptasi pola visual dari era Majapahit, termasuk motif geometris yang kini dikenal luas sebagai bagian dari identitas batik nasional.
Baca Juga: Bendera Majapahit Sang Saka Gula Kelapa, Cikal Bakal Bendera Nasional Indonesia
Dalam dunia desain kontemporer, banyak perajin dan desainer kembali mengeksplorasi “Batik Majapahit” dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan nilai filosofisnya.
Ketika seseorang hari ini mengenakan batik bermotif kawung, tanpa sadar ia sedang membawa sepotong kisah dari abad ke-14, kisah tentang peradaban yang memahami bahwa kekuatan sejati bukan hanya terletak pada pedang atau istana, melainkan juga pada pola sederhana di sehelai kain. (Tri Yulia Setyoningrum)
Editor : Martda Vadetya