Jejak Genetik Majapahit hingga Ungkap Asal Usul Orang Nusantara, Inilah Analisis DNA di Situs Trowulan
Imron Arlado• Kamis, 23 Oktober 2025 | 06:53 WIB
Kerangka Manusia di Komplek Situs Kerajaan Majapahit
JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Sebuah babak baru dalam penelusuran sejarah Majapahit tengah dibuka di Mojokerto. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur berencana melakukan analisis DNA terhadap kerangka manusia yang ditemukan di kawasan Situs Trowulan—wilayah yang diyakini sebagai jantung pemerintahan Majapahit pada masa jayanya.
Melalui pendekatan arkeogenetika, para peneliti berupaya mengungkap sosok manusia di balik kejayaan kerajaan itu: dari asal-usul etnis, pola migrasi, hingga kondisi kesehatan dan kebiasaan hidup mereka.
Inisiatif ilmiah ini diharapkan mampu melengkapi narasi sejarah yang selama ini hanya bertumpu pada artefak dan prasasti. Namun di sisi lain, riset ini juga membuka perbincangan baru seputar etika, spiritualitas, dan cara masyarakat masa kini memperlakukan sisa-sisa masa lalunya.
Penelitian ini membuka cara pandang baru dalam memahami peradaban Majapahit. Selama ini, gambaran tentang kerajaan besar itu terutama dibangun dari peninggalan fisik—candi, prasasti, dan temuan artefak yang bisu namun berharga.
Kini, lewat analisis DNA, sejarah mulai berbicara dengan suara yang lebih personal. Pendekatan arkeogenetika memungkinkan ilmuwan menembus batas waktu, menelusuri jejak biologis manusia yang hidup di balik kemegahan istana dan hiruk-pikuk pusat kekuasaan Trowulan.
Dari fragmen tulang, mereka dapat membaca kisah tentang asal-usul etnis, hubungan antardaerah di Nusantara, hingga kebiasaan makan dan kondisi kesehatan masyarakat kala itu.
Sejarah pun tak lagi sekadar tentang monumen dan legenda—melainkan tentang kehidupan yang benar-benar pernah berdenyut di tanah Majapahit.
Meski berpotensi membuka banyak temuan berharga, penelitian semacam ini tak lepas dari perdebatan. Isu etika menjadi sorotan utama: bagaimana seharusnya sisa manusia masa lalu diperlakukan dalam konteks ilmiah modern?
Publik pun bertanya-tanya, apakah hasil analisis DNA ini akan dibuka secara transparan, dan sejauh mana penelitian dilakukan tanpa menyalahi nilai-nilai budaya maupun spiritual masyarakat setempat.
Pihak Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI menegaskan bahwa seluruh proses dilakukan dengan izin resmi dan pendampingan para ahli, termasuk melibatkan tokoh masyarakat serta mempertimbangkan aspek ritual dan sosial di sekitar situs.
Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara kepentingan ilmiah dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
Bagi masyarakat lokal Trowulan, temuan ini membangkitkan kebanggaan yang bercampur rasa penasaran. Mereka tak lagi sekadar menjadi penjaga situs peninggalan Majapahit, melainkan turut menjadi bagian dari kisah besar yang kini sedang ditafsir ulang dengan bantuan ilmu pengetahuan modern.
Setiap fragmen tulang yang digali terasa seperti potongan identitas yang kembali ditemukan. Di sisi lain, bagi para sejarawan dan arkeolog, riset ini membuka babak baru kolaborasi lintas disiplin antara ilmu humaniora, arkeologi, dan genetika.
Sejarah pun bergerak keluar dari ruang arsip dan halaman buku, menuju laboratorium tempat masa lalu dan masa kini bertemu dalam satu ruang penelitian yang hidup.
Jika hasil penelitian ini kelak terungkap, dunia mungkin akan memandang Majapahit dengan cara yang sama sekali baru. Ia tak lagi hanya berdiri sebagai kerajaan besar dalam catatan prasasti dan mitos sejarah, tetapi hadir sebagai peradaban yang hidup kembali melalui jejak genetik para penghuninya.
Setiap molekul DNA menjadi saksi bisu yang menautkan masa lalu dengan masa kini—mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar cerita yang diwariskan, melainkan bagian dari diri kita sendiri.
Di tengah derasnya arus modernitas, sains memberi kita cara baru untuk mengenali asal-usul, menautkan kebanggaan, dan memahami bahwa darah masa lalu masih mengalir dalam tubuh Nusantara hari ini. (BINTANG PURNAMA)