Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Tak Sekadar Penghormatan Pada Leluhur, Begini Jejak Spiritual Majapahit dalam Tradisi Nyadran

Imron Arlado • Kamis, 23 Oktober 2025 | 06:45 WIB

Ilustrasi  Sraddha sebagai perayaan pesta saat zaman Kerajaan Majapahit
Ilustrasi Sraddha sebagai perayaan pesta saat zaman Kerajaan Majapahit

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Pada abad ke-14, di puncak kejayaannya, Majapahit tidak hanya terkenal karena kekuatan militernya atau kecerdasan politik yang dimiliki oleh Gajah Mada, tetapi juga karena kekayaan budayanya yang mendalam. 

Salah satu warisan yang masih terasa hingga kini adalah tradisi penghormatan kepada leluhur, sebuah praktik yang berakar dari ritual kuno bernama Sraddha, dan kini hidup dalam bentuk baru yang dikenal luas di masyarakat Jawa sebagai Nyadran.

Referensi awal mengenai ritual Sraddha bisa ditemukan dalam karya literatur Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca, yang menggambarkan kehidupan di istana Majapahit pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. 

Dalam kitab itu disebutkan, sang raja pernah menggelar upacara Sraddha untuk menghormati ibundanya, Sri Rajapatni, 12 tahun setelah wafatnya. Bagi penduduk Majapahit, kematian bukanlah akhir dari segalanya.

 

Baca Juga: Miliki Kerja Sama Regional dengan Kerajaan Luar Jawa, Begini Dinamika Kekuasaan Majapahit

 

Roh leluhur diyakini masih menyertai keturunan yang hidup, memberi berkah, dan menjaga keseimbangan dunia. Melalui Sraddha, mereka berusaha menjaga hubungan spiritual itu agar tetap terjalin.

Seiring berjalannya waktu dan masuknya Islam ke tanah Jawa, ritual Sraddha bertransformasi. Meskipun nilai spiritualnya tetap terjaga, bentuk pelaksanaannya menjadi lebih sederhana dan menyatu dengan tradisi setempat. 

Dari sinilah lahir tradisi Nyadran, sebuah ritual tahunan yang dilakukan menjelang bulan Ramadan di banyak desa Jawa hingga hari ini. Dalam kegiatan Nyadran, masyarakat mengunjungi makam nenek moyang, membersihkan tempat peristirahatan, menaburkan bunga, serta berdoa secara bersama-sama. 

Di beberapa daerah, mereka membawa “tenong” berisi nasi, lauk, dan kue untuk dimakan bersama. Di balik kesederhanaan tersebut, terdapat makna mendalam yang mencakup ingatan akan asal-usul, memperkuat hubungan sosial keluarga, serta menumbuhkan rasa syukur. 

 

Baca Juga: Gajah Enggon, Sosok Pengganti Gajah Mada di Masa Kelam Majapahit

 

Di Mojokerto, bekas ibu kota Majapahit, napas ritual leluhur itu masih terasa. Setiap tahun, masyarakat mengadakan berbagai upacara tradisi yang diyakini merupakan kelanjutan dari praktik kuno. 

Salah satunya adalah Kirab Empat Pusaka Majapahit, prosesi budaya yang membawa bendera dan tombak simbol kerajaan keliling kota. Di beberapa tempat seperti Candi Brahu dan Kolam Segaran, masyarakat juga secara teratur menyelenggarakan doa dan sesaji untuk menghormati nenek moyang Majapahit. 

Ritual penghormatan leluhur di Majapahit memiliki lapisan makna yang kaya. Pertama, ia merupakan ungkapan rasa syukur dan penghormatan, sebagai pengakuan bahwa kehidupan saat ini tidak lepas dari kontribusi mereka yang telah tiada. 

Kedua, ritual ini berfungsi sebagai perekat sosial, mempertemukan masyarakat dari berbagai lapisan dalam satu momen kebersamaan. Ketiga, ia berfungsi sebagai simbol keberlanjutan budaya, menunjukkan bahwa nilai-nilai Majapahit tetap ada, beradaptasi dengan perubahan zaman. 

 

Baca Juga: Meriam Cetbang, Senjata Api Unggulan Milik Kerajaan Majapahit

 

Meski tak lagi megah seperti di masa Hayam Wuruk, semangat Sraddha tetap hidup di hati masyarakat Jawa. Di tengah arus modernisasi yang ada, mereka tetap mengunjungi makam nenek moyang, menyalakan dupa, dan berdoa dalam keheningan. 

Semua dilakukan bukan karena kewajiban, melainkan sebagai ungkapan kasih dan penghormatan. (Tri Yulia Setyoningrum)

 

Editor : Martda Vadetya
#budaya jawa #majapahit #tradisi leluhur #sejarah nusantara #nyadran