Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Rahasia Agama Resmi Majapahit, Sinkretisme yang Melahirkan Bhinneka Tunggal Ika

Imron Arlado • Kamis, 23 Oktober 2025 | 06:40 WIB

 

Majapahit tidak memiliki satu kepercayaan formal, melainkan menggabungkan Siwa dan Buddha sebagai dasar untuk mencapai keseimbangan spiritual dan politik di Nusantara.
Majapahit tidak memiliki satu kepercayaan formal, melainkan menggabungkan Siwa dan Buddha sebagai dasar untuk mencapai keseimbangan spiritual dan politik di Nusantara.

Jawa Pos Radar Majapahit - Kerajaan Majapahit diakui sebagai ikon kejayaan Nusantara pada abad ke-14. Namun, di balik keberhasilannya dalam aspek politik dan ekonomi, Majapahit menyimpan narasi menarik terkait keyakinan dan sikap toleran.

Alih-alih menetapkan satu agama resmi, kerajaan ini malah mengakui dua keyakinan utama, yaitu Siwa Hindu dan Mahayana Buddhisme sebagai pilar spiritual negara.

Kombinasi tersebut dikenal dengan nama Siwa-Buddha, sebuah contoh sinkretisme yang unik di Jawa. Dalam pemikiran ini, kedua keyakinan tersebut tidak berkonflik, tetapi dianggap sebagai dua jalur menuju satu kebenaran tertinggi.

Filosofi ini terwujud dalam karya sastra terkenal Kakawin Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular. Di dalamnya terdapat ungkapan yang kemudian menjadi semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa berbeda-beda tetapi tetap satu juga.

Dokumen administratif yang menunjukkan status resmi kedua agama tersebut dapat ditemukan dalam Prasasti Waringin Pitu (1447 Saka).

Dalam catatan tersebut tertera nama dua pejabat tinggi keagamaan kerajaan: Dharmadyaksa ring Kasaiwan yang bertugas mengelola agama Siwa, dan Dharmadyaksa ring Kasogatan untuk agama Buddha.

Keberadaan kedua jabatan ini menunjukkan bahwa kerajaan secara resmi mengakui kedua agama sebagai agama negara.

Pendekatan sinkretis ini berhubungan erat dengan strategi politik. Dengan menjembatani dua kelompok besar penganut agama di wilayah luas, Majapahit mampu menjaga kestabilan sosial dan memperkuat legitimasi sebagai kerajaan pemersatu.

Di bawah satu bendera, rakyat dari latar belakang spiritual yang berbeda bisa hidup berdampingan tanpa adanya konflik besar.

“Majapahit memperlihatkan contoh toleransi yang sangat maju untuk zamannya,” ungkap seorang sejarawan di laman Historia. “Penggabungan dua agama besar bukan hanya langkah spiritual, namun juga politik. ”

Bukti dari bidang arkeologi juga mendukung hal ini. Beberapa candi peninggalan Majapahit menunjukkan perpaduan unsur keagamaan.

Relief di candi menggambarkan cerita Siwa dan Buddha dalam satu kompleks yang sama. Bahkan, ada arca yang ditemukan memiliki sifat kedua dewa, seolah merepresentasikan kesatuan yang tidak terpisahkan.

Walaupun demikian, kehidupan keagamaan masyarakat di luar istana tetap beragam. Banyak orang masih melaksanakan kepercayaan animistik serta tradisi kejawen, menghormati roh leluhur dan kekuatan alam.

Hal ini mencerminkan bahwa keragaman keagamaan di Majapahit bukan sekadar keputusan elit, tetapi merupakan kenyataan di lapangan.

Menjelang keruntuhan Majapahit, pengaruh Buddhisme mulai menurun, sementara penyembahan terhadap dewa-dewa Hindu, terutama Siwa, semakin kuat.

Namun, semangat persatuan tersebut tidak pernah sepenuhnya pudar. Ia tetap bertahan sebagai nilai budaya yang diwariskan hingga masa kerajaan-kerajaan selanjutnya di Jawa dan Bali.

Kini, lebih dari enam abad kemudian, warisan spiritual itu masih terasa. Konsep "berbeda tetapi satu" yang muncul pada masa Majapahit menjadi dasar ideologi Indonesia modern. Di antara masyarakat yang beragam, pesan itu semakin relevan.

Majapahit bukan hanya kerajaan besar yang menguasai lautan dan daratan, tetapi juga kerajaan yang berani menyatukan perbedaan dalam sistem negara yang resmi. Dari istana Trowulan, tumbuh gagasan bahwa harmoni spiritual adalah kekuatan politik yang paling tangguh.

Sebuah pelajaran berharga dari masa lalu tentang bagaimana kekuasaan, budaya, dan keyakinan dapat berjalan seiring tanpa saling meniadakan. (Okta/Linda)

Editor : Martda Vadetya
#majapahit #Siwa Budha #keagamaan #strategi politik #agama