JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit, yang berpusat di Mojokerto dan mencatat puncak kejayaannya pada abad ke-14, diakui sebagai kerajaan besar yang berhasil mempersatukan wilayah Nusantara, termasuk pulau Bali.
Penaklukan pulau Bali oleh Majapahit yang terjadi pada tahun 1343 menjadi tonggak penting dalam sejarah Nusantara, menandai ekspansi kekuasaan Majapahit ke luar wilayah Jawa.
Ini merupakan invasi pertama Majapahit ke pulau di luar Jawa, yang mengakhiri kekuasaan kerajaan Bali kuno yang telah berdiri sejak abad ke-8.
Kisah penaklukan Bali oleh Majapahit dituliskan dalam kakawin Nagarakertagama serta catatan Babad Arya Kutawaringin.
Di bawah komando Patih Gajah Mada, pasukan Majapahit melancarkan serangan ke Bali, dengan dua armada berlabuh di bagian selatan dan utara pulau untuk menyerang pusat kerajaan Bali yang terletak di Bedahulu, Gianyar.
Terjadi pertempuran yang sangat sengit, namun tentara Bali mengalami kekalahan akibat kurangnya dukungan dari masyarakat karena ketidakpuasan terhadap raja mereka yang dianggap jahat.
Raja Bali dan keluarganya akhirnya menyerahkan diri kepada Majapahit, yang menandai jatuhnya Bali berada ke tangan Majapahit pada tahun 1343. Setelah penaklukan, Gajah Mada tidak hanya mengambil alih secara militer, tetapi juga menata pemerintahan di Bali.
Ia menunjuk sejumlah pejabat dari kalangan arya, yakni kepala pasukan Majapahit, untuk memerintah wilayah-wilayah strategis di Bali seperti Gelgel, Tabanan, dan Kaba-Kaba.
Salah satu tokoh penting lainnya adalah Sri Aji Kresna Kepakisan, seorang bangsawan dari Jawa yang ditugaskan untuk menjadi penguasa tunggal Bali. Namun, pemerintahannya tidak langsung diterima oleh masyarakat asli Bali Aga yang melawan keras kehadiran pasukan Majapahit serta pengaruh budaya Jawa.
Perlawanan tersebut sempat menyebabkan kerusuhan dan pemberontakan, yang akhirnya bisa diatasi dengan bantuan tambahan dari Gajah Mada. Ini menunjukkan bahwa proses integrasi budaya dan kekuasaan Majapahit di Bali tidak berjalan mulus dan memerlukan adaptasi yang panjang.
Pengaruh Majapahit di Bali tidak hanya terhenti pada penaklukan militer, tetapi juga meninggalkan warisan budaya serta sistem pemerintahan yang kokoh.
Setelah keruntuhan Majapahit pada abad ke-16, banyak bangsawan dan intelektual Majapahit melarikan diri ke Bali, membawa tradisi Hindu Jawa yang kemudian bersatu dengan adat dan budaya lokal Bali.
Proses akulturasi ini menciptakan identitas Bali yang khas, terutama dalam aspek agama Hindu, sistem kasta, seni, dan adat istiadat. Misalnya, bahasa Bali menunjukkan kesamaan dengan bahasa Jawa yang digunakan pada masa Majapahit.
Dalam hal agama, dewa-dewa Hindu seperti Siwa dan Wisnu di Bali tetap disembah dengan interpretasi yang disesuaikan dengan budaya setempat. Arsitektur pura, yang menjadi tempat suci bagi umat Hindu di Bali, banyak yang mengadaptasi gaya khas Majapahit.
Upacara adat seperti Ngaben untuk kremasi juga mencerminkan gabungan antara elemen Hindu Majapahit dan tradisi asal Bali.
Seni tari, musik gamelan, dan sastra Bali pun sangat terkait dengan warisan budaya Majapahit. Bali menjadi benteng terakhir bagi tradisi seni dan agama Hindu-Buddha yang pernah mengalami perkembangan pesat di Jawa dan Nusantara. (RIZMA/Linda)
Editor : Martda Vadetya