Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Miliki Kerja Sama Regional dengan Kerajaan Luar Jawa, Begini Dinamika Kekuasaan Majapahit

Imron Arlado • Rabu, 22 Oktober 2025 | 01:40 WIB
Kakawin Negarakertagama menunjukkan bahwa relasi Majapahit dengan kekuatan lain di luar Jawa lebih tepat disebut sebagai kerja sama.
Kakawin Negarakertagama menunjukkan bahwa relasi Majapahit dengan kekuatan lain di luar Jawa lebih tepat disebut sebagai kerja sama.

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit, yang mencapai puncak kebesarannya pada abad ke-14 hingga awal abad ke-15, dianggap sebagai salah satu kekuatan besar di Nusantara.

Namun, sering muncul perdebatan mengenai bagaimana Majapahit memandang daerah-daerah di luar Pulau Jawa, apakah sebagai wilayah kolonial yang dikuasai atau sebagai mitra yang memiliki posisi setara.

Penelitian sejarah terkini dan analisis dokumen seperti Kakawin Negarakertagama, menunjukkan bahwa relasi Majapahit dengan kekuatan lain di luar Jawa lebih tepat disebut sebagai kata kunci kerja sama daripada sebuah penjajahan.

 

 

Pusat kekuasaan Majapahit terletak di Trowulan, Jawa Timur, dengan budaya dan ekonominya yang sangat kuat berbasis pertanian. Meski demikian, pengaruhnya meluas ke berbagai kerajaan di luar Pulau Jawa, termasuk daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta bagian dari semenanjung Asia Tenggara dan India.

Namun, wilayah-wilayah tersebut tidak selalu berada di bawah kekuasaan langsung, melainkan menjadi bagian dalam jaringan yang saling menguntungkan dalam hal perdagangan dan diplomasi.

Menurut kakawin Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca, kerajaan-kerajaan di luar Jawa yang terhubung dengan Majapahit dikenal sebagai Mitreka Satata, yaitu negara-negara sahabat yang memiliki posisi setara dan bukan sebagai wilayah bawahan.

 

 

Beberapa daerah seperti Syangka, Ayodhyapura, Marutma, Champa, Kamboja, serta Yawana, termasuk dalam kelompok ini. Hubungan yang terjalin lebih bersifat diplomatik dan ekonomi, dengan fokus menjaga keamanan, perdagang, dan pertukaran budaya.

Para sejarawan dan arkeolog, seperti Hasan Djafar, menekankan bahwa Majapahit tidak menerapkan kolonialisme dengan penguasaan penuh atas wilayah lain, dan sebaliknya, Majapahit menjalin kerja sama yang menguntungkan kedua pihak dengan kerajaan-kerajaan tersebut.

Konsep Nusantara saat itu adalah aliansi dari kerajaan-kerajaan yang bekerja sama demi kepentingan bersama, bukan sebuah dominasi satu pihak atas yang lain.

 

 

Relasi ini juga didukung oleh kedatangan para pedagang, pendeta Hindu-Buddha, dan duta dari berbagai kerajaan yang tinggal dan berinteraksi di Majapahit. Kehadiran mereka semakin memperkuat jaringan perdagangan dan diplomasi, yang menunjukkan bahwa Majapahit berfungsi sebagai pusat kekuatan regional yang mengutamakan kerja sama dan perlindungan bagi rekan-rekannya.

Beberapa kerajaan bahkan memberikan hadiah sebagai lambang persahabatan dan penghormatan, bukan sebagai bentuk upeti atau tanda kekuasaan.

Namun, kekuatan militer Majapahit juga sangat penting untuk diperhatikan, dikarenakan terdapat bukti bahwa Majapahit melaksanakan ekspedisi militer untuk memperkuat pengaruh atau menjaga stabilitas dalam beberapa wilayah.

 

 

Tetapi, tindakan ini lebih bersifat menjaga perdamaian dan mempertahankan pengaruh ketimbang bentuk kolonialisme yang mengasosiasikan penindasan terhadap kerajaan lain.

Secara keseluruhan, pendekatan Majapahit terhadap kerajaan di luar Pulau Jawa lebih tepat dikategorikan sebagai praktik diplomasi yang canggih dengan prinsip kerjasama dan mutualisme.

Pola ini membuat Majapahit mampu tumbuh menjadi kekuatan dominan di Asia Tenggara dengan pengaruh yang luas, tetapi tetap menghormati kedaulatan dan fungsi masing-masing kerajaan mitra dalam jaringan relasinya. (Dzafir Kirana Adelia)

Editor : Martda Vadetya
#mitreka satata #diplomasi #perdagangan #Antar Pulau #negarakertagama #kerjasama #nusantara #relasi #kerajaan majapahit #jawa