Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Gajah Enggon, Sosok Pengganti Gajah Mada di Masa Kelam Majapahit

Imron Arlado • Rabu, 22 Oktober 2025 | 01:35 WIB
Kisah Gajah Enggon: Sosok Pengganti Gajah Mada di Masa Kelam Majapahit
Kisah Gajah Enggon: Sosok Pengganti Gajah Mada di Masa Kelam Majapahit

RADAR JAWA POS MAJAPAHIT –  Setelah kematian Mahapatih Gajah Mada, Kerajaan Majapahit mengalami masa yang tidak stabil dan penurunan kekuatan. Gajah Mada dikenal sebagai sosok yang sangat berpengaruh dan berjasa besar dalam mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaan.

Namun, ketika ia memutuskan untuk mundur dari jabatan Patih Amangkubhumi pada tahun 1367, sulit untuk mengisi kekosongan jabatan ini.

Raja Hayam Wuruk, yang pada saat itu juga memegang posisi sebagai Patih Amangkubhumi, tidak dapat menjalankan kedua peran tersebut dengan maksimal. Oleh karena itu, melalui sidang Dewan Sapta Prabu, Gajah Enggon diangkat untuk menggantikan Gajah Mada dalam jabatan ini.

Namun, meski Gajah Enggon telah melaksanakan tugasnya selama 27 tahun hingga kematiannya pada tahun 1398, ia tetap tidak mampu mengembalikan kejayaan Majapahit seperti yang dicapai pada masa Gajah Mada.

Gajah Enggon berasal dari pasukan elit Bhayangkara, yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan kerajaan serta melindungi keluarga raja.

Sejak muda ia dikenal memiliki kemampuan kanuragan yang tinggi, dan pernah menjadi komandan pasukan Bhayangkara yang bertanggung jawab atas keamanan baik di dalam maupun di luar kerajaan.

Sebelum menjabat sebagai Patih Amangkubhumi, Gajah Enggon terlibat dalam penumpasan beberapa pemberontakan, seperti pemberontakan Kuti, Sadeng, dan Keta. Walaupun demikian, selama masa kepemimpinannya juga terjadi perpecahan internal yang signifikan di Majapahit.

Kemunculan Kedaton Timur di wilayah Kerajaan Majapahit menunjukkan adanya persaingan dalam perebutan kekuasaan, yang dipicu oleh ambisi Sri Wijayarajasa yang memanfaatkan ketidakstabilan posisi Gajah Enggon.

Keadaan ini menyebabkan pembagian Majapahit menjadi dua wilayah yaitu Majapahit Kulon dan Majapahit Wetan, menandai masa kehancuran dalam sejarah kerajaan ini.

Upaya pengiriman utusan ke Kaisar Cina dari Kedaton Wetan pada tahun 1377 yang bertujuan untuk mendapatkan pengakuan sebagai penguasa juga mengalami kegagalan, yang semakin menggarisbawahi lemahnya pengaruh Majapahit pada masa itu.

Sri Wijayarajasa yang menjadi tokoh utama di Kedaton Wetan tidak menerima pengakuan dari Kaisar hingga meninggal pada tahun 1388. Kehilangan sosok Gajah Mada dan kehadiran Gajah Enggon sebagai penggantinya menjadi titik balik bagi perjalanan sejarah Majapahit.

Gajah Mada tidak tergantikan dalam sejarah dan membawa kerajaan menuju puncak kejayaan, sementara Gajah Enggon tidak mampu mempertahankan kekuatan tersebut.

Masa jabatan Gajah Enggon justru menandai masa kelam dan perpecahan kerajaan, membuka kesempatan bagi pihak lain untuk memperoleh kekuasaan di wilayah yang terpisah.

Walaupun demikian, peran Gajah Enggon tetap penting sebagai individu yang berusaha mempertahankan kelangsungan pemerintahan Majapahit dalam situasi yang sulit.

Ia menjalani tugasnya selama hampir tiga dekade, yang mencerminkan dedikasi untuk menjaga stabilitas kerajaan meskipun tidak mencapai kejayaan seperti pendahulunya.

Setelah Gajah Enggon meninggal pada tahun 1398, jabatan Patih Amangkubhumi digantikan oleh Gajah Lembana. Sejak saat itu, Majapahit semakin mengalami kemunduran secara politik dan militer, hingga akhirnya tidak mampu bertahan lama setelah masa kejayaannya. (RIZMA)

Editor : Martda Vadetya
#Kejayaan #bhayangkara #patih amangkubumi #raja hayam wuruk #gajah mada #Patih Enggon