JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit dikenal sebagai salah satu penguasa maritim terbesar di Nusantara antara abad ke-13 sampai ke-15. Salah satu faktor yang mendukung kejayaan Majapahit adalah keunggulan dalam teknologi militernya, khususnya dalam inovasi senjata api yang berupa meriam Cetbang.
Senjata ini bukan hanya sekadar alat peperangan, melainkan juga sebuah lambang kemajuan teknologi yang mereka miliki. Meriam Cetbang mulai dikenal setelah invasi tentara Mongol ke pulau Jawa pada tahun 1293.
Teknologi bubuk mesiu dan meriam yang dibawa oleh pasukan Mongol kemudian diadaptasi dan dikembangkan oleh Majapahit, di bawah bimbingan Mahapatih Gajah Mada yang memiliki peran penting.
Gajah Mada, selain dikenal sebagai panglima perang dan ahli strategi, juga dikenal menguasai teknologi persenjataan, yang memungkinkannya merancang meriam Cetbang dalam jumlah besar.
Meriam tersebut dibuat dari bahan perunggu dan besi, dan tersedia dalam berbagai ukuran mulai satu hingga tiga meter, disesuaikan dengan kegunaannya, baik untuk pertempuran darat maupun untuk dipasang pada kapal perang armada laut Majapahit.
Ciri khas meriam Cetbang adalah kemampuannya untuk menembakkan berbagai tipe peluru secara bersamaan, yang memberikan fleksibilitas dan keunggulan taktis dalam pertarungan. Fungsi meriam Cetbang sangat penting dalam mempertahankan wilayah kekuasaan Majapahit.
Armada laut Majapahit yang dilengkapi dengan senjata ini dikenal efektif dalam mengamankan rute perdagangan serta wilayah kekuasaan yang membentang dari Samudera Hindia hingga Laut China Selatan.
Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa armada laut Majapahit yang menggunakan meriam ini pernah meraih kemenangan melawan armada Portugis yang pada waktu itu merupakan kekuatan kolonial utama.
Produksi meriam Cetbang dilakukan secara masal dengan dukungan industri rumahan di dalam kerajaan. Ini menunjukkan bahwa sistem pembuatan dan manajemen produksi di Majapahit berjalan dengan sangat teratur.
Dari segi teknologi, meriam Cetbang menunjukkan kemajuan dalam bidang metalurgi pada waktu itu dengan desain yang berbeda dari meriam Eropa maupun Timur Tengah.
Cetbang diproduksi dengan ruang dan tabung peluru yang terletak di bagian belakang, menjadikannya efektif sekaligus efisien dalam penggunaannya. Senjata ini juga dikenal dengan nama meriam Coak, yang berarti meriam terbuka dalam bahasa Betawi.
Peran meriam Cetbang dalam kekuatan militer Majapahit adalah bukti dari penyesuaian teknologi luar yang dikombinasikan dengan inovasi lokal, melahirkan senjata yang kuat yang tak hanya memperkuat pertahanan tetapi juga mendukung posisi Majapahit sebagai penguasa laut di kawasan Asia Tenggara.
Keberadaan senjata ini mencerminkan bagaimana teknologi dan strategi perang menjadi bagian penting dalam mempertahankan dan mengembangkan pengaruh politik Majapahit.
Secara keseluruhan, meriam Cetbang bukan hanya sekadar senjata kuno, melainkan juga simbol kemajuan dalam teknologi militer pada era Majapahit, yang berhasil menjaga kerajaannya dari ancaman eksternal dan memperluas pengaruhnya di lautan.
Baca Juga: Gerabah Majapahit, Jejak Sederhana dari Keagungan yang Abadi
Keberhasilan armada laut Majapahit dengan meriam ini menunjukkan bahwa kerajaan ini memiliki tingkat kecanggihan dan disiplin yang tinggi dalam strategi militer, menjadikan Majapahit salah satu kerajaan maritim terkuat di zamannya. (RIZMA)
Editor : Martda Vadetya