JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Di balik suara gamelan yang menggema dan wangi bunga kenanga yang sering disebut dalam puisi kuno, Majapahit menyimpan tradisi yang hampir terlupakan yaitu kegiatan menghasilkan dupa.
Tak banyak yang tahu bahwa kerajaan besar ini memiliki budaya wewangian yang sangat maju, bukan sekadar untuk upacara keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari diplomasi, pengobatan, dan bahkan tanda status sosial.
Namun, bagi warga Majapahit, dupa bukan hanya sekedar aromatik. Ia adalah jembatan antara manusia dan dewa. Dalam tradisi Siwa-Buddha yang menjadi pilar spiritual kerajaan, asap dupa dianggap mampu menyampaikan doa ke hadapan para dewa.
Di istana Trowulan, dupa dibakar setiap pagi sebagai simbol penyucian, sementara di rumah-rumah rakyat, dupa dinyalakan untuk memohon keseimbangan dan ketentraman.
Berdasarkan penelitian arkeolog Dr. Edi Sedyawati dalam Estetika Nusantara Kuno, penerapan wewangian di Majapahit memiliki makna simbolis yang dalam. “Aroma harum bukan sekadar keindahan, tapi lambang kesempurnaan budi,” tulisnya.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika raja dan pejabat tinggi Majapahit dikenal memiliki "aroma khas yang mewah" dari campuran dupa dan minyak cendana.
Baca Juga: Menyelami Kehidupan Spiritual dan Politik Raja Kertanegara, Raja Besar Singhasari
Dalam beberapa catatan Tiongkok abad ke-14, utusan mereka mencatat bahwa ruang pertemuan Majapahit “berbau seperti surga tropis yang membius pikiran.” Majapahit mengajarkan bahwa sebuah peradaban besar tidak hanya dikenang melalui bangunan megah, tetapi juga melalui hal yang paling halus yaitu aroma.
Sebab, ketika dupa dinyalakan di sudut rumah atau pura, sesungguhnya kita sedang menyalakan kembali semangat leluhur yang dulu menyalakan dunia dengan cahaya dan wangi Nusantara.
Tri Yulia Setyoningrum
Editor : Imron Arlado