JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Di balik keindahan candi dan istana Trowulan, terdapat warisan yang terlihat sederhana dan sering kali diabaikan, yaitu gerabah.
Namun, di tangan para perajin Majapahit, tanah liat berubah menjadi karya yang menyimpan pesan spiritual, sosial, dan ekonomi dari sebuah peradaban besar.
Gerabah lebih dari sekadar tempat air atau alat memasak, ia merupakan “bahasa tanah” yang menggambarkan kehidupan sehari-hari Majapahit dengan kejujuran yang tidak dapat ditemukan dalam prasasti atau kitab.
Penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta (2018) menyebut bahwa pusat produksi gerabah Majapahit tersebar di beberapa titik di Trowulan seperti Suroyo, Kedungwulan, dan Bejijong.
Baca Juga: Jejak Perempuan Majapahit yang Menjaga Harmoni Nusantara
Menariknya, di antara pecahan gerabah terdapat berbagai simbol unik seperti ukiran bunga teratai, bentuk naga kecil, dan bahkan huruf yang belum sepenuhnya dapat dibaca.
Para arkeolog menduga bahwa tanda-tanda itu bukan sekadar hiasan, melainkan bentuk komunikasi antara pembuat dan pemilik, semacam “tanda tangan spiritual” yang melindungi isinya.
Di samping fungsi sakralnya, gerabah juga melambangkan keseimbangan antara manusia dan alam. Dalam tradisi Majapahit, proses pembuatan gerabah mengikuti siklus kosmologis, pertama tanah diambil saat bulan muda, dibentuk di tengah fase bulan naik, dan dibakar menjelang purnama.
Keyakinan pada masa itu menyatakan bahwa tanah yang dibakar di bawah sinar bulan purnama akan menjadi kuat dan “berjiwa”. Ini menunjukkan betapa dalamnya hubungan masyarakat Majapahit dengan unsur bumi dan langit.
Baca Juga: Ketika Bata Merah Khas Majapahit Menjaga Harmoni Alam
Namun yang paling menarik adalah aspek kemanusiaannya. Tidak seperti prasasti yang dibuat untuk raja, gerabah dibuat untuk rakyat. Ia mencerminkan kehidupan sehari-hari, dari wadah nasi, kendi untuk air, lampu minyak, hingga patung kecil Dewi Sri yang diletakkan di dapur.
Setiap guratan jari, setiap bekas pembakaran, adalah kesaksian bahwa kebesaran Majapahit tak hanya hidup di istana, tapi juga di tungku-tungku sederhana milik rakyatnya.
Gerabah Majapahit mengajarkan kita bahwa kebesaran tidak selalu diukur dengan emas atau batu, tetapi juga dari tanah, elemen yang sederhana namun paling abadi.
Di sanalah, dalam setiap retakan dan warna merah bata, tersimpan pesan tentang keseimbangan antara manusia, alam, dan sejarah. Sebuah pesan dari masa lalu yang terus berbicara melalui bahasa yang sederhana, tapi abadi yaitu bahasa tanah Majapahit.
Baca Juga: Gajah Mada: Misteri Figur di Balik Kejayaan Majapahit
Tri Yulia Setyoningrum
Editor : Imron Arlado