Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sistem Pemerintahan dan Kehidupan Politik Majapahit Pada Masa Kejayaan Raja Hayam Wuruk

Imron Arlado • Senin, 20 Oktober 2025 | 23:03 WIB
Sistem Pemerintahan dan Kehidupan Politik Majapahit Pada Masa Kejayaan Raja Hayam Wuruk
Sistem Pemerintahan dan Kehidupan Politik Majapahit Pada Masa Kejayaan Raja Hayam Wuruk

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Majapahit dipandang sebagai kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang paling besar dan berpengaruh dalam sejarah Nusantara.

Berpusat di Jawa Timur dengan ibu kota di Trowulan, Majapahit meraih puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk yang memimpin dari tahun 1350 hingga 1389 Masehi.

Kejayaan dan kemakmuran kerajaan ini tak lepas dari sistem pemerintahannya yang terorganisir serta strategi politik yang tangguh. Sistem politik Majapahit menggunakan doktrin cosmoginos yang menegaskan teritorial kekuasaan dengan pendekatan desentralisasi dan birokrasi yang ketat.

Raja dianggap sebagai perwujudan dewa dan pemimpin tertinggi yang menduduki puncak struktur kekuasaan, didukung oleh para pejabat birokrasi.

Struktur pemerintahan terdiri dari pemerintahan pusat yang kuat serta pemerintahan daerah yang erat, di mana setiap wilayah atau desa dijaga sebagai sumber utama pangan bagi kerajaan.

Konsep ini memberikan keseimbangan antara kekuasaan pusat dan otonomi regional, sehingga menciptakan pemerintahan yang lebih efektif dan stabil.

Politik dalam kerajaan ini tidak luput dari tantangan berupa pemberontakan internal, yang telah ada sejak era pemerintahan pendiri Majapahit, Raden Wijaya. Namun, kecerdasan dan strategi Gajah Mada berhasil mengatasi berbagai pemberontakan yang mengancam keutuhan kerajaan.

Istilah Sumpah Palapa yang diikrarkan oleh Gajah Mada menjadi simbol perjuangan persatuan Nusantara yang dilakukan dengan gigih, sehingga Majapahit mampu menguasai wilayah yang luas mencakup seluruh kepulauan Indonesia dan beberapa wilayah di Asia Tenggara.

Raja Hayam Wuruk sendiri dikenal sebagai pemimpin yang tegas, bijaksana, dan memiliki visi masa depan yang jelas. Pemerintahannya didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada yang berperan penting sebagai pemersatu dan tangan Raja

Hayam Wuruk mengupayakan kesejahteraan rakyat dengan menghindari pungutan pajak yang memberatkan. Ia juga menggalakkan penegakan hukum untuk menindak segala bentuk kejahatan, terutama politik adu domba yang berpotensi memecah belah kerajaan.

Politik Majapahit juga dikenal dengan Sad Guna Upaya, yakni enam prinsip luhur yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar dapat memimpin dengan efektif dan dihormati baik oleh rakyat maupun negara lain.

Prinsip tersebut meliputi sikap bersahabat dengan rakyat, menjaga hubungan baik, berwibawa, bijaksana, mampu menghadapi musuh, serta menjaga perdamaian.

Dalam pengelolaan wilayah, Majapahit membagi wilayah yang terdiri atas Negara Luhur (inti kerajaan), Mancanegara (wilayah di bawah pengaruh budaya Jawa dan wajib membayar upeti), dan Nusantara (wilayah dengan otonomi yang luas).

Hubungan luar negeri dijalin melalui konsep Mitreka Satata, yang berarti hubungan aliansi setara dengan kerajaan-kerajaan independen di luar Majapahit.

Era kejayaan Majapahit juga memunculkan kemajuan di bidang ekonomi dan budaya, khususnya dalam sektor pertanian dan perdagangan rempah-rempah.

Namun, setelah wafatnya Hayam Wuruk, Majapahit mengalami penurunan akibat konflik perebutan tahta yang berlanjut menjadi perang saudara, hingga akhirnya dominasi wilayahnya perlahan memudar dan berpindah ke kekuatan kerajaan Islam Demak pada abad ke-16.

RIZMA

Editor : Imron Arlado
#politik majapahit #hayam wuruk #majapahit #Sumpah Palapa #masa kejayaan #gajah mada