Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ketika Bata Merah Khas Majapahit Menjaga Harmoni Alam

Imron Arlado • Senin, 20 Oktober 2025 | 01:20 WIB

Kolam segaran di Trowulan
Kolam segaran di Trowulan

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Ketika kita pergi ke Trowulan, sisa-sisa bata merah, kolam yang luas, dan saluran air yang sepi menjadi bukti keagungan Majapahit. 

Banyak orang mengira peninggalan itu sekadar puing masa lalu. Namun, di balik bata yang tersisa itu, terdapat sistem perencanaan kota serta manajemen air yang sangat maju, bahkan melampaui zamannya. 

Majapahit bukan hanya kerajaan besar secara politik, tetapi juga peradaban teknik dan lingkungan. Mengacu pada catatan Nagarakṛtāgama dan hasil penggalian dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, ibu kota Majapahit di Trowulan dirancang dengan konsep "kota air," yang berarti sebuah kota yang hidup berdampingan dengan aliran sungai, kolam, dan saluran buatan manusia. 

Sistem ini bukan tanpa alasan. Wilayah Mojokerto dan Jombang, yang menjadi pusat kerajaan, dikelilingi oleh sungai besar seperti Brantas dan Porong, yang sering meluap saat musim hujan. 

Para arsitek Majapahit menjinakkan alam dengan cara cerdas dengan membangun jaringan kanal dan embung untuk mengatur aliran air, mencegah banjir, sekaligus menyediakan pasokan irigasi bagi sawah dan taman istana.

 

Baca Juga: Arca Dewa Temuan Penggali Kubur Berpeluang Jadi Cagar Budaya Kabupaten Mojokerto, Disbudporapar Tunggu Rekomendasi BPK Wilayah XI

 

Salah satu warisan paling menakjubkan adalah Kolam Segaran, kolam besar yang mencakup hampir 8 hektare di Trowulan. Konon, kolam ini digunakan untuk menjamu tamu kerajaan dan melatih pasukan laut.

Namun, fungsi utamanya jauh lebih kompleks, kolam ini juga berfungsi sebagai waduk untuk menampung air hujan serta cadangan irigasi. Dindingnya yang tersusun dari bata merah dengan sistem penguncian air menunjukkan tingkat teknik bangunan yang tinggi untuk ukuran abad ke-14.

Selain Kolam Segaran, terdapat pula Candi Tikus, yang berfungsi sebagai pemandian suci dengan pancuran berbentuk makara (makhluk mitologi laut). Struktur bertingkatnya menunjukkan bahwa air tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan fisik, tetapi juga spiritual. 

Dalam pandangan kosmologi Hindu-Buddha, air melambangkan kesucian dan kehidupan.  Maka, di Majapahit, mengelola air berarti menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan dewa.

Sistem perencanaan kota di Majapahit juga mencerminkan perencanaan ruang yang inovatif. Jalan-jalan bata merah dibangun sejajar dengan kanal air, membentuk pola grid, konsep yang baru populer di Eropa berabad-abad kemudian.

 

Baca Juga: Dari Nusantara ke Indonesia: Jejak Majapahit dalam Lahirnya Kesadaran Kebangsaan

 

Rumah warga, pura, balai kerajaan, dan pasar terletak sesuai dengan hierarki sosial dan empat arah mata angin, yang menggabungkan fungsi praktis serta nilai simbolik. 

Bahkan reruntuhan sumur dan saluran air yang ditemukan di setiap kompleks permukiman menunjukkan bahwa masyarakat Majapahit sudah memahami pentingnya sanitasi. 

Air tidak dibiarkan menumpuk sembarangan, melainkan dialirkan ke kolam dan sungai melalui sistem sirkulasi yang alami. Kini, ketika dunia modern berbicara tentang “smart city” dan “eco-architecture”, jejak Majapahit mengingatkan kita bahwa konsep itu sudah hidup ratusan tahun lalu di tanah Trowulan. 

Sebuah kota yang tidak melawan alam, melainkan mengalir bersamanya. Di situlah letak keajaiban Majapahit, bukan hanya pada pasukan lautnya, tetapi pada caranya mengatur air, menjaga bumi, dan menata ruang dengan harmoni. 

Kota ini mungkin telah menghilang dalam sejarah, tetapi sistemnya tetap hidup di sungai-sungai Mojokerto yang terus mengalir hingga kini. (Tri Yulia Setyoningrum)

 

 

Baca Juga: Jejak Pujangga Era Majapahit: Antara Kekayaan Dunia dan Kehidupan Bertapa

 




Editor : Martda Vadetya
#majapahit #warisan budaya #Ekologi Nusantara #trowulan #Kota Air