Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Menyelami Kehidupan Spiritual dan Politik Raja Kertanegara, Raja Besar Singhasari

Imron Arlado • Sabtu, 18 Oktober 2025 | 01:08 WIB
Selain dikenal sebagai raja terkemuka Singhasari, ia merupakan salah satu pelopor yang berkontribusi terhadap pembentukan Kerajaan Majapahit
Selain dikenal sebagai raja terkemuka Singhasari, ia merupakan salah satu pelopor yang berkontribusi terhadap pembentukan Kerajaan Majapahit

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Raja Kertanegara, yang menjadi pemimpin Kerajaan Singhasari dari tahun 1268 ingga 1292, adalah sosok yang begiru berpengaruh dalam sejarah Nusantara dengan kisah kehidupannya yang kaya dan penuh makna.

Selain dikenal sebagai raja terkemuka Singhasari, ia juga merupakan salah satu pelopor yang berkontribusi terhadap pembentukan Kerajaan Majapahit melalui keturunannya.

Kertanegara, sosok yang lahir dengan nama Nararyya Murddhaja, adalah putra dari Raja Wisnuwardhana. Ia menggantikan posisi ayahnya dan memimpin masa kejayaan Singhasari yang menjadi pusat kekuasaan di Jawa Timur, kehidupannya meliputi tidak hanya tentang politik dan perang saja, tetapi juga perjalanan spiritual yang dalam serta toleransi antaragama.

 

 

Raja Kertanegara percaya akan pentingnya integrasi dan harmonisasi antara Buddha Tantrayana dan Siwa Bhairawa yang berkembang di kerajaannya, sehingga ia mendirikan beberapa candi penting seperti Candi Jawi dan Candi Singasari sebagai lambang kesatuan tersebut.

Dalam urusan keluarga, Kertanegara beristrikan Sri Bajradewi dan memiliki beberapa putri yang kemudian menjalin pernikahan dengan tokoh-tokoh penting lainnya yang ada di Nusantara, termasuk Raden Wijaya yang nantinya mendirikan Majapahit.

Keempat putrinya yang tercatat dalam naskah Nagarakretagama adalah Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Jalinan hubungan keluarga ini sangat strategis dan memperkuat kekuatan politik Singhasari yang terjadi pada masa itu, serta menjadikan perantara antara Singhasari dan Majapahit.

 

 

Kertanegara juga diakui sebagai raja yang memiliki visi untuk memperluas kekuatan kerajaannya di luar Pulau Jawa, termasuk ke wilayah Melayu dan Nusantara secara keseluruhan.

Ia menghadapi ancaman dari luar, seperti Kubilai Khan dari Tiongkok, yang terobsesi untuk menguasai kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara. Dalam momen kritis ini, Kertanegara menggunakan berbagai strategi, termasuk ritual keagamaan tantris dan pendekatan politik untuk memperkuat persatuan dan pertahanan kerajaannya.

Sangat menarik bahwa raja ini melaksanakan beberapa ritual keagamaan yang jarang diadakan oleh penguasa-penguasa lainnya, seperti upacara Ganacakra dan ritual tantris di lokasi yang terkenal keramat, yang mana mencerminkan kedalaman spiritualnya.

Sikap toleransinya terhadap perbedaan serta pendekatan inovatifnya dalam menyatukan berbagai elemen agama, menjadi faktor penting dalam memperkuat kerajaan.

 

 

Namun, perjuangan Kertanegara berakhir dengan tragis ketika ia meninggal pada tahun 1292 akibat serangan pemberontakan yang dipimpin oleh Jayakatwang, yang kemudian membuka jalan bagi berdirinya kerajaan Majapahit oleh menantunya, Raden Wijaya.

Meski demikian, warisan Raja Kertanegara tetap diingat hingga kini sebagai tonggak penting dalam sejarah Indonesia, terutama sebagai pendorong persatuan Nusantara dan pelopor kejayaan Majapahit yang akan datang.

Kisah kehidupan pribadi Kertanegara menggambarkan seorang raja yang tidak hanya berkuasa dalam urusan pemerintahan dan militer, namun juga dalam aspek spiritual dan pembangunan budaya, menjadi teladan pemimpin visioner yang mencerminkan sisi kemanusiaan seorang penguasa besar. Dzafir Kirana Adelia

Editor : Imron Arlado
#kertanegara #majapahit #negarakertagama #jayakatwang #jawa timur #kerajaan singhasari #nusantara