JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Pengalaman bermain anak-anak di era Majapahit memiliki kemiripan dengan dunia anak-anak saat ini.
Sebuah penemuan artefak yang berupa mainan tradisional dari periode tersebut memberikan bukti yang jelas bahwa jenis permainan yang mereka nikmati sudah sangat bervariasi dan mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi.
Di antara permainan yang terkenal dan telah ada sejak era Majapahit adalah kelereng atau sering disebut gundu. Artefak kelereng yang terbuat dari terakota telah ditemukan berada di wilayah Trowulan, menunjukkan bahwa adanya permainan ini sejak ratusan tahun lalu.
Kelereng merupakan permainan yang membutuhkan ketelitian, fokus, dan keterampilan untuk mengarahkan bola kecil ke sasaran tertentu.
Biasanya permainan ini dimainkan dalam kelompok, permainan ini tidak hanya melatih keterampilan motorik tetapi juga meningkatkan kemampuan sosial anak-anak saat mereka bersaing dan berinteraksi.
Di samping kelereng, permainan engklek juga menjadi bagian dari kegiatan hiburan anak-anak pada masa Majapahit.
Engklek adalah permainan yang mengharuskan melompat di atas petak yang memerlukan keseimbangan dan kelincahan, anak-anak menggambar kotak-kotak di tanah dan melompati beberapa kotak hanya dengan menggunakan satu kaki.
Permainan ini sering dimainkan dalam kelompok besar dan memperkuat interaksi sosial di antara anak-anak di sekitar mereka, penemuan gaco engklek di situs arkeologi mempertegas bahwa permainan ini merupakan elemen penting dalam budaya anak-anak pada zaman Majapahit.
Permainan lainnya yang sangat populer di kalangan anak-anak pada waktu itu adalah gasing. Gasing merupakan alat bermain yang terbuat dari kayu yang dibuat dengan desain tertentu dan dimainkan dengan cara memutarnya sekuat mungkin.
Permainan ini berfungsi sebagai arena bersaing di mana para pemain berusaha mempertahankan gasing mereka untuk berputar lebih lama dibandingkan dengan lawan.
Asal usul gasing tercantum dalam berbagai cerita dan legenda, yang menceritakan bahwa pada mulanya, gasing dibuat dari bahan-bahan yang tidak biasa seperti telur ayam.
Gasing lebih dari sekadar permainan, melainkan juga merupakan alat untuk melatih ketangkasan dan konsentrasi bagi anak-anak pada era tersebut.
Selain ketiga permainan tersebut, terdapat juga permainan yang mengedepankan kerja sama dan strategi, seperti sliduran, petak umpet, dan gobak sodor, yang terdaftar dalam naskah-naskah kuno Jawa.
Meskipun nama dan pola permainan ini telah berubah, pada dasarnya, mereka berasal dari zaman kerajaan Majapahit atau sebelumnya.
Permainan-permainan ini memiliki aturan yang melibatkan banyak pemain, memperkuat rasa kebersamaan, serta keterampilan sosial dalam interaksi antar anak-anak.
Permainan tradisional di era Majapahit berperan tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai alat pendidikan nonformal yang mengajarkan nilai-nilai penting seperti kejujuran, semangat sportivitas, keterampilan fisik, dan kemampuan sosial.
Sangat penting untuk menjaga kelestarian permainan-permainan ini agar generasi sekarang dan yang akan datang dapat mengenal budaya nenek moyang mereka guna mendapatkan manfaat positif dari aktivitas bermain yang sarat makna pendidikan.
Melalui pelestarian permainan tradisional, budaya Indonesia dapat terus hidup serta berkembang sesuai dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar sejarahnya.
Permainan seperti kelereng, engklek dan gasing menunjukkan betapa kayanya warisan budaya kita, yang telah berkembang sejak masa kejayaan kerajaan Majapahit. Dzafir Kirana Adelia/Devi
Editor : Imron Arlado