JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Sungai Brantas memiliki peranan penting dalam perkembangan pesat di Kerajaan Majapahit, yang menjadi pusat peradaban terkemuka di seluruh Nusantara pada abad ke-13 hingga abad ke-15.
Sungai ini bukan sekadar sumber penghidupan bagi masyarakat sekitarnya, tetapi juga menjadi jalur transportasi yang sangat penting, menghubungkan wilayah pedalaman dengan daerah pesisir, serta mendukung aktivitas ekonomi, politik, dan budaya kerajaan.
Sebagai sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo, Sungai Brantas mengalir dari sumbernya di Desa Sumber Brantas, Kota Batu.
Aliran airnya dari Gunung Arjuno dan melewati berbagai kabupaten penting seperti Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, hingga Mojokerto.
Di wilayah Mojokerto, sungai ini bercabang menjadi dua aliran, yaitu Kali Mas yang menuju Surabaya dan Kali Porong yang mengarah ke Sidoarjo, sehingga menciptakan konektivitas dengan pelabuhan utama dan kawasan pesisir.
Lokasi strategis ibu kota Majapahit di Trowulan, yang terletak di antara Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo, menjadikan sungai ini sebagai fondasi utama bagi perdagangan, baik di dalam negeri maupun di jalur maritim.
Dalam berbagai sumber literatur, seperti kitab Nagarakretagama, dijelaskan bagaimana sejumlah kapal kecil mengangkut barang dari pelabuhan besar ke kota melalui jalur sungai dan kanal yang sengaja dikembangkan.
Jalur air ini mempermudah proses distribusi barang dari wilayah pesisir ke pedalaman, dan sebaliknya, menjadikan Sungai Brantas sebagai jalur perdagangan yang sangat penting dengan lebar mencapai dua kilometer.
Selain berfungsi sebagai sarana transportasi, Sungai Brantas juga memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan sektor pertanian kerajaan.
Daerah di sepanjang aliran sungai sangat subur, berkat adanya endapan vulkanik dari Gunung Kelud dan aktivitas geologi lainnya, sehingga menjadi lahan pertanian sawah yang sangat produktif dengan sistem irigasi yang teratur.
Bahkan Prasasti Harinjing mencatat pembangunan infrastruktur irigasi dan saluran air, menunjukkan adanya pengawasan ketat dan pengelolaan air yang baik untuk mendukung kebutuhan pangan serta menjaga kestabilan kerajaan.
Pengaruh penting dalam bidang teknologi dan sosial juga tercermin dalam pemanfaatan sungai ini.
Desa-desa yang berkembang di sepanjang tepi Sungai Brantas tidak hanya sebagai pemukiman, tapi juga bertransformasi menjadi pelabuhan sungai besar seperti Canggu, Bubat, dan Terung.
Pelabuhan-pelabuhan ini berperan sebagai pusat perdagangan sekaligus tempat untuk menjalin diplomasi budaya dan politik, menghubungkan kerajaan dengan berbagai wilayah seperti Sumatra, Malaya, Kalimantan, bahkan hingga ke kepulauan sekitar seperti Sulawesi dan Nusa Tenggara.
Catatan pelaut Cina bernama Ma Huan tahun 1433 menegaskan bahwa pelabuhan di sepanjang aliran Sungai Brantas di Jawa Timur tidak hanya ramai oleh pedagang lokal, tetapi juga pedagang asing dari komunitas Islam dan Cina yang memegang posisi penting dalam aktivitas perdagangan.
Hal ini menunjukkan bahwa Majapahit merupakan kerajaan yang aktif dalam jalur perdagangan internasional.
Sejarah juga mencatat aspek sosial, di mana prasasti dan catatan arkeologis menunjukkan adanya 44 desa penyeberangan di sepanjang Sungai Brantas, yang kemudian berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi dan sosial yang terorganisir.
Hal ini membuka peluang kerjasama antar komunitas dan mendukung pertumbuhan budaya Majapahit yang kaya.
Singkatnya, Sungai Brantas bukan sekedar jalur air biasa, melainkan fondasi utama yang menyatukan wilayah-wilayah penting Kerajaan Majapahit secara geografis dan ekonomi.
Peranannya sangat penting dalam mewujudkan kejayaan kerajaan melalui kombinasi sektor pertanian, maritim, perdagangan, serta peran sosial budaya yang mendukung perkembangan pusat kerajaan di Trowulan.
RIZMA/Wulandari
Editor : Imron Arlado