JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit lebih dari sekadar kerajaan besar yang menguasai wilayah yang luas di kepulauan Indonesia. Selain itu, Majapahit juga terkenal sebagai kerajaan dengan karakter agama yang kaya dan beragam.
Kehidupan spiritual masyarakat saat itu tidak hanya berfokus pada satu agama, tetapi merupakan kombinasi dari berbagai kepercayaan yang hidup berdampingan.
Hindu dan Buddha sebagai Agama Istana
Dalam sistem pemerintahan Majapahit, Hindu dan Buddha diakui sebagai dua agama utama kerajaan.
Catatan sejarah, seperti Prasasti Waringin Pitu (1447), menunjukkan adanya pejabat kerajaan yang secara khusus menangani urusan agama Hindu-Siwa dan Buddha.
Hal ini menunjukkan bahwa kedua agama ini memegang posisi signifikan dalam sistem pemerintahan dan kehidupan istana.
Namun, kehadiran kedua agama besar ini tidak membuat Majapahit kaku dalam beragama. Sebaliknya, kehidupan beragama sangat cair, banyak orang dan bangsawan menggabungkan unsur-unsur dari kedua ajaran, sehingga menciptakan praktik spiritual yang unik.
Sinkretisme,Memadukan Ajaran
Salah satu ciri kehidupan beragama di Majapahit adalah sinkretisme perpaduan Hinduisme dan Budha yang juga menyatu dengan kepercayaan lokal. Masyarakat Majapahit tidak membedakan secara kaku antara satu agama dengan agama lainnya.
Contoh yang sering dikutip adalah keluarga kerajaan itu sendiri Raja Hayam Wuruk dikenal sebagai penganut Hindu Siwa, sementara ibunya, Tribhuwana Tunggadewi, menganut ajaran Buddha.
Perbedaan keyakinan dalam keluarga kerajaan tidak berujung pada perpecahan, melainkan menunjukkan bentuk toleransi yang kuat di dalam lingkaran kekuasaan tertinggi.
Hal ini juga mencerminkan kehidupan masyarakat umum pada masa itu, di mana berbagai keyakinan dapat hidup berdampingan.
Kepercayaan Lokal yang Tetap Hidup
Selain penganut Hindu dan Buddha, komunitas Majapahit juga terus melestarikan kepercayaan tradisional yang telah ada sejak lama, seperti animisme dan dinamisme.
Mereka memiliki keyakinan roh terhadap nenek moyang, kekuatan alam, serta praktik spiritual yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Kepercayaan lokal ini tidak dihilangkan oleh agama resmi kerajaan. Sebaliknya, kepercayaan tersebut menyatu ke dalam kehidupan keagamaan sehari-hari.
Upacara bersejarah seringkali menjadi momen menyatukan ritual Hindu-Buddha dan tradisi lokal dari masyarakat Jawa kuno.
Toleransi dan Awal Perkembangan Islam
Pada akhir masa Majapahit, ajaran Islam mulai masuk ke pulau Jawa melalui jalur perdagangan dan penyebaran dari pedagang Muslim.
Menariknya, kedatangan Islam tidak langsung menyebabkan ketegangan antar agama. Justru, banyak orang menerima pengaruh Islam dengan damai dan bertahap.
Saat ini, Majapahit bukan hanya sebuah pusat pemerintahan dan perdagangan, tetapi juga tempat bagi berbagai kepercayaan.
Toleransi menjadi elemen penting yang menjadikan kehidupan sosial dan keagamaan berjalan harmonis meskipun beragam.
Warisan Pluralisme Majapahit
Warna keagamaan Majapahit menunjukkan bahwa keberadaan bukanlah hal baru dalam sejarah bangsa Indonesia.
Bahkan sejak abad ke-14, masyarakat sudah terbiasa hidup dalam ruang spiritual yang multikultural. Raja tidak memaksakan satu agama sebagai identitas tunggal, tetapi memberi kesempatan bagi semua kepercayaan untuk berkembang.
Warisan pluralisme ini masih tampak dalam praktik budaya masyarakat Jawa hingga saat ini. Upacara adat, tradisi keagamaan, serta kepercayaan lokal sering kali saling berinteraksi tanpa menimbulkan konflik besar.
Sehingga Majapahit memberikan ajaran penting, yaitu keharmonisan tak selalu berarti keseragaman.
Dalam perbedaan keyakinan, mereka mampu membangun ruang hidup bersama yang sejahtera.
Inilah salah satu warisan terpenting dari Majapahit yang sering terlupakan bahwa kejayaan tidak hanya tentang kekuasaan dan wilayah, tetapi juga kemampuan untuk merangkul keberagaman. Okta/Wulandari
Editor : Imron Arlado