JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Bayangkan sebuah kerajaan yang dulunya menjadi pusat kekuasaan di Nusantara yang perlahan hancur bukan karena serangan musuh dari luar, tetapi akibat pertikaian di dalam istana.
Itulah yang dialami Majapahit di awal abad ke-15 saat Perang Paregreg meletus, pertempuran saudara yang mengubah segalanya.
Konflik ini dimulai pada tahun 1404 dan berlangsung hingga 1406. Penyebab utamanya adalah kemunduran tahta setelah kematian Prabu Hayam Wuruk, raja terkemuka Majapahit.
Kekuasaan terbelah menjadi dua kelompok, Wikramawardhana yang menguasai istana barat dan Bhre Wirabhumi di istana timur. Keduanya merasa berhak atas takhta, yang kemudian memicu ketegangan hingga menjadi pertempuran besar.
Meskipun Wikramawardhana keluar sebagai pemenang Bhre Wirabhumi terbunuh setelah melarikan diri, kemenangan ini bukanlah akhir dari cerita bahagia. Justru, di sini adalah awal kemunduran bagi Majapahit.
Perang Paregreg menyisakan luka mendalam bagi kerajaan, baik dalam aspek politik, ekonomi, maupun sosial.
Dampak pertama yang paling nyata adalah hilangnya banyak wilayah kekuasaan. Sebelumnya, Majapahit menguasai wilayah luas di Nusantara.
Namun setelah perang, banyak daerah mulai lepas dari kendali pusat. Kelemahan pemerintahan setelah perang membuat pengaruh Majapahit berkurang secara drastis.
Selain kehilangan wilayah, banyak nyawa yang melayang. Perang saudara ini menyebabkan korban dalam jumlah besar.
Selain prajurit, warga sipil juga menjadi korban, termasuk sekitar 170 orang Tionghoa yang berada di wilayah Majapahit saat konflik terjadi. Hilangnya sumber daya manusia menambah kerentanan kerajaan.
Dampak serius lainnya adalah kerusakan ekonomi. Infrastruktur ikut hancur, jalur perdagangan terganggu, dan keuangan kerajaan tergerus.
Selain itu, Majapahit mewajibkan membayar sejumlah besar uang kepada komunitas Tionghoa karena banyaknya korban.
Dana kerajaan yang seharusnya digunakan untuk pembangunan atau penguatan wilayah justru habis untuk menutupi kerusakan akibat perang.
Tidak hanya itu, keadaan politik Majapahit juga semakin tidak stabil. Setelah perang berakhir, istana dilanda ketegangan dan permusuhan antara para bangsawan.
Banyak wilayah mulai beroperasi secara mandiri dan loyalitas terhadap raja semakin menurun. Perang saudara telah mengguncang dasar kekuasaan yang sebelumnya sangat kuat.
Sejak saat itu, Majapahit tidak pernah lagi bertanya-tanya masa Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Kekuasaannya melemah dari dalam, sementara tekanan dari luar semakin meningkat.
Dalam situasi yang goyah ini, kerajaan yang dulunya dihormati perlahan-lahan kehilangan kekuasaan.
Sejarah mencatat bahwa Perang Paregreg menjadi salah satu momen kritis dalam kisah Majapahit. Bukan serangan dari musuh luar yang menjatuhkannya, melainkan perang antar saudara sendiri.
Dari konflik ini, kita dapat belajar bahwa masalah besar sering kali dihilangkan dari perpecahan internal, bukan dari serangan eksternal.
Majapahit pun akhirnya menjadi kenangan akan kejayaan masa lalu, sebuah kerajaan besar yang runtuh akibat perpecahan yang tidak pernah teratasi. Okta/Devi
Editor : Imron Arlado