JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Di balik sejarah cemerlang Majapahit, terdapat sebuah cerita legenda yang tidak kalah menarik dibandingkan dengan peperangan kerajaan atau politik di istana, yaitu kisah Cindelaras.
Bukan sosok prajurit atau bangsawan, melainkan seekor ayam jantan legendaris yang setia menemani Jayanegara, anak Raden Wijaya, pada saat ia bersembunyi sebelum naik takhta.
Nama Jayanegara memang dikenal luas dalam cerita tentang Majapahit. Ia adalah putra Raden Wijaya, pendiri kerajaan megah itu, dan Dara Petak, putri dari kerajaan Melayu.
Keturunan campuran ini sempat menimbulkan keraguan di kalangan istana mengenai legitimasi Jayanegara sebagai ahli waris takhta. Kondisi ini menjadikannya berada dalam posisi yang rentan dan berisiko.
Diceritakan, sebelum menjadi raja pada tahun 1309 Masehi, Jayanegara pernah mengalami masa pengunduhan atau penyamaran.
Ia terpaksa menyembunyikan jati dirinya agar terhindar dari mereka yang ingin menyingkirkannya. Pada periode inilah cerita tentang Cindelaras berkembang, ayam jantan yang setia menemani calon raja dalam keadaan sunyi dan berbahaya.
Cindelaras bukanlah ayam biasa. Dalam kisah rakyat, karakter ini digambarkan sebagai ayam jantan yang kuat dan selalu berhasil unggul dalam setiap pertarungan ayam.
Kemenangannya tidak hanya memberikan hiburan, namun juga melambangkan keberuntungan dan kekuatan bagi Jayanegara. Ayam ini diyakini memiliki insting yang sangat tajam, seolah-olah memahami siapa pemilik yang sebenarnya.
Cindelaras selalu menemani Jayanegara, bertugas sebagai “ sahabat ” setia dalam perjalanan panjang sebelum resmi menjadi raja.
Di mata masyarakat pada zamannya, hewan seperti ayam jantan tidak hanya berfungsi sebagai hewan peliharaan.
Ia juga melambangkan kekuatan, semangat tempur, dan keberanian nilai -nilai yang dianggap sangat penting bagi seorang penguasa kerajaan.
Dalam berbagai variasi cerita, Cindelaras membantu Jayanegara untuk memperoleh kepercayaan rakyat.
Melalui pertarungan ayam, semakin banyak orang yang mulai mengenali dan membayangkan sosok pemuda misterius yang sebenarnya adalah calon raja Majapahit.
Kesetiaan ayam jago tersebut berfungsi sebagai gambaran kesetiaan masyarakat terhadap pemimpin yang berhak dan adil.
Legenda ini juga mencerminkan cara masyarakat Jawa kuno dalam menyampaikan pesan moral melalui simbol-simbol dan cerita.
Ayam jago bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan menjadi " penjaga takhta " secara kiasan. Ia menjadi Saksi bisu perjalanan seorang calon raja dari masa-masa sulit menuju pencapaian kesuksesan.
Meski tidak tercatat dalam prasasti resmi, kisah Cindelaras tetap hidup dalam bentuk cerita rakyat.
Cerita ini disampaikan dari generasi ke generasi, dari pagelaran wayang hingga buku-buku anak-anak. Ini menunjukkan seberapa besar pengaruh legenda dalam membentuk ingatan kolektif suatu bangsa.
Cerita ini juga memiliki versi yang serupa di berbagai wilayah Indonesia, seorang anak raja yang hidup dalam penyamaran disertai oleh ayam jago yang setia. Namun, versi Majapahit ini istimewa karena berhubungan langsung dengan tokoh yang nyata Jayanegara yang pernah berkuasa di atas kerajaan besar.
Kisah Cindelaras bukan sekadar cerita fiktif. Ia menyimpan pesan yang berhubungan dengan kesetiaan, keberanian, dan makna perjuangan.
Di era modern ini, nilai-nilai tersebut masih memiliki relevansi kepada setia kebenaran, berani menghadapi kesulitan, dan yakin bahwa kejujuran pada akhirnya akan terjadi.muncul sebagai pemenang.
Legenda ini mengajarkan bahwa kekuatan tidak hanya berkaitan dengan senjata atau tentara, tetapi juga mencakup kesetiaan dan kepercayaan. Ayam jago Cindelaras mungkin tidak dapat berbicara, tetapi kisahnya tetap bertahan selama ratusan tahun menjadi bagian dari sejarah serta warisan budaya Nusantara. (Okta/Devi)
Editor : Martda Vadetya