JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Dalam catatan sejarah dan kisah rakyat Jawa Timur, diyakini bahwa nama kerajaan besar Majapahit diambil dari buah liar bernama maja, yang memiliki rasa pahit. Cerita ini telah menjadi bagian penting dari warisan budaya Nusantara yang terus diceritakan turun-temurun.
Sejarah kerajaan Majapahit dimulai pada tahun 1293, ketika Raden Wijaya, menantu Prabu Kertanegara, berhasil mengalahkan pemberontak Jayakatwang dengan memanfaatkan serangan pasukan Mongol yang datang ke Jawa.
Setelah sukses mengalahkan Jayakatwang dan mengusir tentara Mongol, Raden Wijaya diangkat menjadi raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.
Saat Raden Wijaya dan pengikutnya dari Madura membuka Hutan di wilayah Tarik, para prajurit yang kehausan mencari sesuatu untuk dikonsumsi. Mereka menemukan banyak pohon maja yang tumbuh disekitar lokasi dan mencobanya.
Namun rasa buah tersebut sangat pahit hingga membuat mereka yang memakan buah tersebut memuntahkannya. Raden Wijaya yang penasaran, mencoba sendiri buah itu dan mengalami hal yang sama.
Peristiwa ini menjadi awal munculnya nama Majapahit, yang berasal dari gabungan kata "maja" dan "pahit." Seiring berjalannya waktu, pemukiman yang dibuka Raden Wijaya berkembang pesat dan semakin ramai.
Seorang arkeolog, Wicaksono Dwi Nugroho, menyatakan bahwa hingga saat ini, belum ada artefak atau prasasti yang mencantumkan secara eksplisit siapa yang menciptakan nama Majapahit atau bagaimana nama itu diberikan.
Bahkan, penafsiran mengenai lokasi Hutan Tarik pun menjadi perdebatan, beberapa mengklaim itu berlokasi di Trowulan, sementara yang lain memberikan alternatif lokasi lain di Jawa Timur.
"Analisis saya belum berani sampai mengerucut ke sana, apakah Alas Trik di Trowulan atau Alas Trik dengan Wilwatiktapura dua tempat berbeda. Karena agak susah membuktikan itu," jelas Wicaksono.
Salah satu bukti yang dianggap memperkuat tradisi lokal adalah adanya pohon maja di situs-situs bersejarah. Sebagai contoh, di Gunung Ratu, Dusun Cancing, Desa Sendangrejo, Lamongan, terdapat pohon maja yang dipercaya masih asli dan terus berbuah.
Rudi Herlambang, seorang pengamat budaya di Lamongan, mengungkapkan bahwa buah ini memiliki rasa pahit dan sering keliru dipahami orang sebagai buah berenuk.
Para arkeolog juga mencatat bahwa pohon maja pernah tumbuh di lokasi-lokasi kuno dari era Majapahit, meskipun banyak yang telah ditebang dan hilang seiring berjalannya waktu.
Walaupun nama “Majapahit” sangat terhubung dengan buah maja, penelitian baru dan kamus etimologi menunjukkan jika nama ini juga terdapat dalam bahasa Sansekerta sebagai Wilwatikta.
Dalam naskah kerajaan, istilah tersebut sering digunakan untuk merujuk pada kerajaan atau lokasi istana. Namun, sebutan “Majapahit” sepertinya lebih dikenal oleh masyarakat melalui cerita rakyat dan catatan lokal. (RIZMA)
Editor : Martda Vadetya